SELAMAT DATANG

GURU SEJATI adalah tempatku belajar dari apa yang aku baca, aku lihat, aku dengar dan aku rasakan, dan berbagi dengan sesama insan yang belajar.GURU SEJATI bukanlah aku atau diriku. GURU SEJATI adalah semangatku dalam mengapai ilmu dan ridho-Nya.GURU SEJATI adalah proses belajar dan mencari jati diri.

Sabtu, Desember 17, 2011

BOS 2012 Triwulan Pertama Cair Tanggal 9-16 Januari 2012

BOS 2012 Triwulan Pertama Cair Tanggal 9-16 Januari 2012

JAKARTA, (PRLM).- Penyaluran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) pada 2012 nanti dilakukan melalui kas daerah provinsi, tidak seperti 2011 yang melalui kabupaten/kota. Pada triwulan pertama diharapkan dana BOS sudah bisa tersalurkan ke sekolah pada tanggal 9 hingga 16 Januari 2012.
Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kemdikbud Suyanto menuturkan, transfer ke daerah harus terjadi karena tuntutan UU Otonomi Daerah. Penyaluran melalui provinsi dianggap lebih manageable.
“Tidak ada skemanya kalau ingin dari kas umum negara ke sekolah,” kata Suyanto pada sela-sela pertemuan audiensi dengan Koordinator Divisi Monitoring Pelayanan Publik Indonesia Corruption Watch (ICW) Febri Hendri beserta jajarannya, bertempat di Gedung E Kemdikbud Senayan, Jakarta, Jumat (16/12).
Menurut dia, meskipun penyaluran BOS pada 2012 sama dengan 2005-2010, yaitu melalui pemerintah provinsi, namun skemanya berbeda. Selain itu, laporan juga hanya pada akhir tahun. “Laporan triwulan III misalnya bukan prasyarat pencairan untuk triwulan IV,” katanya.
Dijelaskan, sebagian penyaluran dana BOS pada 2011 memang lambat. Meskipun, ada sejumlah kabupaten/kota yang cepat dalam penyaluran. Dia menilai, itu merupakan persoalan perilaku birokrasi. “Triwulan ke-4 saja saat ini baru 111 kabupaten/kota yang telah menyalurkan,” katanya.
Total kabupaten/kota yang ada adalah 497 buah. Untuk triwulan ke-3, tercatat masih ada 35 kabupaten/kota yang belum menyalurkan.
Sebelumnya, Koordinator Divisi Monitoring Pelayanan Publik Indonesia Corruption Watch (ICW) Febri Hendri mencatat, pada 2011 terjadi masalah dalam penyaluran dana BOS berupa keterlambatan pencairan.
Dia juga mempertanyakan, pada 2012 mengapa BOS harus disalurkan lewat provinsi, tidak ke sekolah langsung. “Pada 2011 ini terjadi masalah dalam penyaluran berupa keterlambatan pencairan dana BOS ke sebagian besar SD dan SMP,” katanya.
Febri menuturkan, keterlambatan ini telah berimplikasi serius terhadap pendanaan operasional dan pelayanan pendidikan sekolah. Dia mencontohkan terdapat sekolah terpaksa mencari sumber pendanaan lain untuk menutupi kebutuhan operasional, seperti membayar honor guru, ujian, alat tulis kantor (ATK), dan lainnya.
“Bahkan, sebagian sekolah terpaksa meminjam dana kepada pihak ketiga apabila dana yang dibutuhkan cukup tinggi,” katanya.
Pada salah satu rekomendasinya, Febri menyebutkan, untuk merevisi Permendikbud No. 51/2011 tentang Juknis (Petunjuk Teknis) Dana BOS 2012, terutama terkait dengan peran dan kewenangan Komite Sekolah dalam pengelolaan dana BOS.
Pada bagian lain, pihaknya menilai adanya pemborosan pengadaan buku pelajaran 2011. Febri mempertanyakan, mengapa ada kebijakan imperatif, seperti mewajibkan sekolah membeli satu buku Penjasorkes setiap murid di tingkat SD dan dua buku Penjasorkes dan SBK (Seni, Budaya, dan Keterampilan) bagi satu murid SMP.
“Bagi murid dan orang tua kelompok ekonomi menengah ke bawah, buku prioritas yang menjadi pegangan murid adalah buku Matematika, IPA, dan Bahasa Indonesia,” katanya.
Direktur Pembinaan SMP Ditjen Pendidikan Dasar Kemdikbud Didik Suhardi menuturkan, terkait BOS buku, pada 2012 nanti bersifat penggantian buku.
“Kalau masih pengadaan buku teks, sifatnya penggantian. Misalnya, buku Matematika lama diganti dengan buku yang baru,” jelasnya.
Didik menuturkan, pengadaan buku ini dilakukan bertahap untuk kelengkapan buku-buku mata pelajaran di sekolah bersangkutan.
Dijelaskan dia, mulai 2006-2008, buku mata pelajaran yang diadakan adalah Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA (untuk SD) dan Bahasa Indonesia, Matematika, dan bahasa Inggris (untuk SMP).
Lalu, pada 2009, buku IPS dan Pendidikan Kewarganegaraan (untuk SD) dan IPA dan Pendidikan Kewarganegaraan (untuk SMP). Pada 2010, Pendidikan Agama, Seni Budaya dan Keterampilan (untuk SD). Sedangkan, untuk SMP adalah IPS dan Teknologi Informasi dan Komunikasi.
Sementara itu, pada 2011, untuk SD meliputi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Olahraga. Sedangkan, untuk SMP berupa buku Pendidikan Jasmani, Kesehatan dan Olahraga dan Seni Budaya dan Keterampilan.
Menurut Didik, pengadaan buku-buku mata pelajaran itu berbeda dibandingkan dengan kebutuhan perpustakaan yang lebih pada referensi, pengayaan, dan panduan guru.(A-94/A-89)***
sumber : http://www.pikiran-rakyat.com

Selasa, Desember 06, 2011

BUDAYA MENULIS BAGI GURU: SEBUAH KAJIAN KRITIS

Tulisan dari Untung Sutikno S.Pd, seorang guru dari Kabupaten Brebes tentang “Budaya Menulis di Kalangan Guru, Cermin Sebuah Keprihatinan” akan lemahnya guru untuk mengasah kompetensi menulis.  Artikel ini menjabarkan tentang beberapa kelemahan guru, terutama yang tidak mengasah kompetensinya untuk menulis. Menurut Untung, kegiatan menulis tidak hanya menulis dalam bentuk artikel yang dikirim ke media massa, akan tetapi menulis dalam ujud yang lebih sederhana dan dekat dengan kehidupan pekerjaan seperti membuat RPP, membuat Lembar Kerja Siswa (LKS) yang mendukung kegiatan belajar mengajar.
Untung mengungkapkan beberapa sebab yang menjadikan guru tidak membudayakan menulis antara lain; 1) kurangnya budaya membaca yang baik, 2) motivasi yang rendah untuk menulis, 3) miskin gagasan, 4) kurangnya keberanian untuk menulis.
Tulisan Untung tersebut nampaknya ingin menyiratkan ungkapan hatinya yang prihatin akan kondisi ini. Namun, apakah sebenarnya yang tersirat di dalam tulisan tersebut?

Minggu, November 13, 2011

Contoh Hasil Kajian Kritis terhadap bahan ajar LKS

Kajian Kritis:
ALAT KOMUNIKASI DAN TRANSPORTASI
(Suatu Kajian Kritis Terhadap LKS Berjudul: Alat Komunikasi dan transportasi.
(Tulisan:Dra Detti Hendarni MSc)
Oleh: .............................
A.  Pendahuluan
Tulisan tentang lembar kegiatan siswa (LKS) ini merupakan karya ilmiah pyang ditulis oleh Deti Hendarni ( Widyaiswara PPPPTK PKn dan IPS). Tema yang diangkat penulis cukup relevan dan yang penting untuk dipapar dan dikaji saat ini. Bahan ajar berupa LKS digunakan penulis untuk bahan ajar pada diklat guru IPS SD di PPPPTK PKn dan IPS tahun 2010.  Walaupun demikian, melalui “Penerbitan” pada media internet maka setiap orang mendapat kesempatan untuk membaca dan menanggapi (langsung) terhadap bahan ajar tersebut. Tulisan bahan ajar tentang LKS memberikan semacam contoh atau model bagi guru IPS, khususnya bagi peerta diklat.
Sebagai pembahasan yang mengangkat isu penting dan relevan dengan perkembangan pendidikan dan pembelajaran, maka tulisan tentang bahan ajar LKS  ini memiliki arti penting dan perlu dibaca. Namun demikian masih terdapat beberapa kekurangan yang perlu dikritsi dalam upaya perbaikan.
Berdasarkan LKS ditas, gaya penulisannya kami anggap cocok dengan pembaca atau penggunanya, yakni siswa kelas IV SD  yang belajar IPS tentang teknologi alat komunikasi dan alat transportasi. Penyusun LKS telah berusaha menyesuaikan isi LKS dengan kebutuhan siswa yang diharapkan memiliki kemauan dan kemampuan untuk belajar secara mandiri.

Contoh Laporan Hasil Kajian Kritis atas Tulisan/Artikel Ilmiah

Character Building Sebagai Modal  Menghadapi Tantangan Global
( Ditulis oleh : B. Suparlan)

Oleh
Tim Kajian Kritis
A.  PENDAHULUAN
Secara umum kajian kritis terhadap artikel ini bertujuan menelusuri tulisan tertentu untuk keperluan pengembangan gagasan dalam sebuah artikel ilmiah. Secara khusus kajian kritis ini bertujuan untuk pengayaan konsep dan model-model pengembangan gagasan yang telah dilakukan oleh penulis. 
Pilihan tulisan jatuh kepada tulisan B. Suparlan dari PPPPTK PKn dan IPS judul Character Building Sebagai Modal Menghadapi Tantangan Global. Tulisan ini diperoleh dari buletin Mipsos PPPPTK PKn dan IPS terbitan Juni 2010. Alasan pemilihan tulisan ini adalah topik yang disajikan bersifat aktual dan saat ini sedang mendapat perhatian dari kalangan pendidikan,. Tulisan dalam artikel ini dapat memberi kesempatan kepada kita untuk berdiskusi tentang pembangunan karakter, dan mengaitkan materi diskusi dengan isi artikel ini.
Manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan  kajian kritis pada artikel ini adalah (1) bagi peserta kegiatan BERMUTU yang belum memiliki topik PTK, hasil kajian kritis ini dapat membentangkan jalan menuju identifikasi masalah, (2) bagi mereka yang sedang menulis, hasil kajian kritis ini dapat menjadi sumber pengembangan gagasan dalam pengembangan kajian pustaka, dan (3) bagi mereka yang telah melaksanakan penelitian dan sedang dalam proses mengembangkan laporan, kajian kritis ini dapat menjadi bahan perbandingan temuannya.

MODEL KAJIAN KRITIS TERHADAP ARTIKEL DAN BAHAN AJAR

A.  Pengertian dan Tujuan Kajian Kritis.
Dalam bahasa Inggris, istilah yang digunakan adalah “Critical Review”, sementara dalam bahasa Indonesia menggunakan istilah “Kajian Kritis” atau “ Telaah Kritis”, atau “Tinjauan Kritis”.
Dalam glosarium BBM PTK Generik dikemukakan bahwa kajian kritis merupakan suatu  kegiatan membaca, menelaah, menganalisis suatu bacaan/artikel untuk memperoleh ide-ide, penjelasan, data pendukung yang mendukung pokok pikiran utama, serta memberikan komentar terhadap isi bacaan secara keseluruhan dari sudut pandang kepentingan pengkaji. Berdasarkan pengertian ini dapat dinyatakan bahwa kegiatan utama yang dilakukan dalam kajian kritis adalah pemahaman akan makna yang tertuang dalam suatu teks.
Kata kunci yang dijumpai dalam pengertian kajian kritis di atas adalah membaca, menelaah, menganalisis, ide-ide, data pendukung, memberi komentar, dan sudut pandang kepentingan pengkaji. Ada 3 hal utama dari kata kunci ini, yaitu aktifitas kajian, obyek kajian, dan kepentingan pengkaji. Aktivitas kajian merupakan prosedur yang dilakukan dalam melakukan pengkajian, obyek kajian merupakan isi teks atau wacana, artikel, buku yang hendak dikaji, dan kepentingan pengkaji merupakan tujuan yang hendak dicapai oleh subjek pengkaji. Ketiga hal ini berpilin menjadi satu membangun suatu aktivitas yang disebut dengan kajian kritis.
Adapun yang harus dikaji dalam kajian kritis adalah kejelasan (clarity), mutu (quality), dan keaslian (originality). Selain itu perlu juga diperhatikan relevansi (kemanfaatan dan keyakinan) dan tampilan.