Oleh :
Salimudin
ABSTRAK
Penelitian
tentang peningkatan kompetensi guru dalam pengembangan silabus dan RPP melalui
pembinaan profesional dengan pendekatan kooperatif di SD daerah binaan V Cabang
Dinas P dan K Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes pada semester I tahun
pelajaran 2008/2009 adalah penelitian tindakan (action research) yang bersifat
siklik. Permasalahan dalam penelitian tindakan sekolah ini adalah bagaimana
pembinaan profesional dengan pendekaatan kooperaratif dapat meningkatkan
kompetensi guru dalam mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP) di SD di daerah Binaan V Kecamatan Wanasari Kabupaten
Brebes?. Tujuan dari penelitian tindakan sekolah yang dilaksanakan oleh
pengawas sekolah kepada guru yaitu untuk meningkatkan kompetensi guru dalam
mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan untuk
mengetahui sejauh mana pembinaan profesional dengan pendekatan kooperatif dapat
meningkatkan kompetensi guru. Kemampuan yang akan ditingkatkan adalah kemampuan
guru dalam mengembangkan silabus dan RPP. Tindakan dilaksanakan dalam 2 siklus
yang mengcu pada permasalahan dan tujuan penelitian. Subjek penelitian adalah
guru kelas VI yang berada di daerah binaan (DABIN) V Cabang Dinas P dan K
Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes pada semester gasal tahun pelajaran
2008/2009. Objek penelitian tindakan sekolah adalah silabus dan RPP. Indikator
keberhasilan dalam penelitian ini adalah (1) meningkatnya aktivitas peserta
dalam pembinaan, (2) efektivitas pembinaan dengan pendekatan kooperatif, (3)
meningkatnya kemampuan dan penguasaan guru/peserta dalam mengembangkankan
silabus dan RPP yaitu nilai rata-rata yang diperoleh di atas 70. Hasil
penelitiannya adalah (1) untuk siklus I, nilai rata-rata masih rendah yakni
65,31 dan meningkat pada siklus 2 nilai rata-rata yang diperoleh peserta adalah
Kata Kunci :
Pembinaan Profesional Dengan Pendekatan Kooperatif, Meningkatkan Kompetensi
GuruPENDAHULUAN Latar
Belakang
Pendidikan
merupakan salah satu prioritas program pembangunan di Indonesia, karena isu
mengenai mutu pendidikan sampai saat ini masih bergulir. Upaya meningkatkan
mutu pendidikan menjadi priotitas utama, disamping pemerataan, relevansi,
efesiensi, dan efektivitas. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan
kompetensi guru, antara lain melalui pelatihan, workshop, bimbingan teknik, dan
uji sertifikasi. Namun demikian berbagai indikator peningkatan kompetensi guru
belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Yuwono (2001) menyatakan bahwa
usaha-usaha perbaikan pembelajaran sudah dilakukan namun belum menampakkan
hasil yang memuaskan. Hal ini sejalan dengan pendapat Theofilus (2006) yang
mengatakan bahwa guru selama ini lemah dalam menyusun silabus dan rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang menjadi pedoman pada saat pembelajaran di
kelas. Bahkan ada yang tidak menyusunnya sama sekali, padahal kualitas rencana
pelaksanaan pembelajaran sangat menentukan hasil kegiatan belajar mengajar.
Oleh karena
itu upaya peningkatan kompetensi terus dilakukan. Upaya ini diantaranya dengan
mengadakan pembinaan profesional dengan memadukan berbagai pendekatan..
B. Rumusan
Masalah dan Pemecahannya
1. Rumusan
Masalah
Berdasarkan
permasalahan-permasalahan di atas, maka dapat ditarik suatu rumusan masalah
sebagai berikut:
Bagaimana
Pembinaan Profesional dengan Pendekaatan Kooperatif Dapat Meningkatkan
Kompetensi Guru Dalam Mengembangkan Silabus dan Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) Di SD Daerah Binaan V Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes?
2. Rencana
Pemecahan Masalah
Penelitian
ini adalah penelitian tindakan yang dilaksanakan di sekolah yang pada
hakikatnya digunakan dalam rangka memecahkan masalah-masalah yang timbul dalam
tugas dan fungsi pengawas . Rencana pemecahan masalah dilakukan melalui
tindakan yang diperkirakan sebanyak 2 siklus.
Perencanaan
tindakan digambarkan sebagai berikut:
C. Tujuan
Penelitian
Dalam
penelitian tindakan sekolah ini, peneliti mempunyai tujuan :
1. Untuk
meningkatkan kompetensi guru dalam mengembangkan silabus melalui pembinaan
profesional dengan pendekatan kooperartif.
2. Untuk
meningkatkan kompetensi guru dalam mengembangkan RPP melalui pembinaan
profesional dengan pendekatan kooperatif.
3. Untuk
mengetahui sejauh mana pembinaan profesional dengan pendekatan kooperatif dapat
meningkatkan kompetensi guru dalam mengembangkan silabus dan RPP.
D. Manfaat
Penelitian
Penelitian
tindakan sekolah ini dilaksanakan, yang hasilnya diharapkan bermanfaat untuk :
1. Guru
a. Guru
memiliki kemampuan dalam menjabarkan standar isi menjadi silabus.
b. Guru
lebih mampu dalam mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran.
c. Guru
memiliki keterampilan dalam membuat perangkat pembelajaran.
2. Pengawas
sekolah
a. Memiliki
keterampilan dalam pembinaan profesionak kepada guru.
b. Memiliki
inovasi dalam melaksanaan pembinaan profesional terhadap guru.
c. Sebagai
masukan kepada pengawas sekolah dalam melaksanakan pembinaan profesional dengan
pendekataan kooperatif
3. Dinas
Pendidikan
Memberikan
sumbangan pemikiran dalam upaya untuk meningkatkan kompetensi guru dalam
mengembangkan silabus dan RPP melalui pembinaan profesional dengan pendekatan
kooperartif.
E. Hipotesis
Tindakan
Hipotesis
tindakan dalam penelitian ini adalah:
1. Pembinaan
profesional dengan pendekatan kooperatif dapat meningkatkan kemampuan guru
dalam mengembangkan silabus.
2. Pembinaan
profesional dengan pendekatan kooperatif dapat meningkatkan kemampuan guru dalam
mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran.
F. Kajian
Teori
1.
Pengembangan Silabus
Silabus
adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema
tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran,
kegiatan pembelajaran, indiktor pencapaian kompetensi untuk penilaian,
penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar ( Panduan Penyusunan KTSP,
Depdiknas, 2006). Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan
kompetensi dasar ke dalam materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator
pencapaian kompetensi dan penilaian. Dalam mengembangkan silabus pada
hakikatnya harus menganut prinsip-prinsip (a) ilmiah, (b) relevan, (c)
sistematis, (d) konsisten, (e) memadai, (f) aktual dan kontekstual, (g) fleksibel,
dan (h) menyeluruh.
Langkah-
langkah yang disarankan dalam mengembangkan silabus menurut pedoman dari BSNP (
2007) adalah sebagai berikut (a) mengisi kolom identifikasi, (b) menulis dan
mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar, (c) mengidentifikasi materi
pembelajaran, (d) mengembangkan kegiatan pembelajaran, (d) merumuskan indikator
pencapaian kompetensi, (e) menentukan jenis penilaian yang sesuai dengan
karakteristik setiap SK/KD , (f) menentukan alokasi waktu yang dibutuhka, dan
(g) menentukan sumber belajar yang akan digunakan sebagai rujukan. Dengan
demikian silabus disebut baik apabila dalam mengembangkan silabus penyusun
menggunakan langkah-langkah yang telah ditentukan oleh badan standar nasional
pendidikan .
2.
Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Rencana
pembelajaran merupakan hal yang sangat penting yang harus dilakukan oleh guru
untuk menunjang pembentukan kompeten dasar yang diharapakan. Sumantri (1988)
mengemukakan proses pembelajaran yang dimulai dengan mengembangkan rencana
pembelajaran, ketika kompetensi dan metodologi telah diindentifikasi, akan
membantu guru dalam mengorganiisasi materi standar serta mengantisipasi peserta
didik dalam menghadapi masalah-masalah yyang akan timbul.
Menurut
Reigeluth (1993) memaknai rencana pembelajaran adalah kisi-kisi dari penerapan
teori belajar dan pembelajaran untuk memfasilitasi proses belajar seseorang.
Kemudian Gentry (1994) berpendapat bahwa yang disebut rencana pembelajaran
adalah suatu proses yang merumuskan dan menentukan tujuan pembelajaran,
strategi, teknik, dan media agar tujuan umum tercapat. Berdasarkan pendapat dua
pakar pendidikan penulis menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan rencana
pembelajaran adalah suatu perencanaan jangka pendek untuk memperkirakan tentang
apa yang akan dilakukan dengan jalan menkoordinasikan komponen pembelajaran
yaitu kompetensi dasar materi, indikator dan penilaian yang digunakan dalam
kegiatan belajar mengajar.
Menurut BSNP
(2007) dalam pedoman penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran komponen
minimal yang harus ada dalam mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran
adalah sebagai berikut (a) kolom identitas mata pelajaran, (b) menuliskan
standar kompetensi dari standar isi, (c) menuliskan kompetensi dasar, (d)
menentukan indikator pencapaian kompetensi, (e) merumuskan tujuan pembelajaran
yang ingin dicapai, (f) merumuskan materi materi pembelajaran yang sesuai
dengan kompetensi dasar, (g) menentukan metode pembelajaran yang sesuai, (h)
menyusun secara sitematik rencana kegiatan pembelajaran yang meliputi kegiatan
awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup, (i) menentukan sumber belajar, media
pembelajaran dan sarana serta prasarana yang diperlukan, (j) menyusun prosedur
penilaian yang sesuai dengan karakteristik mata pelajaran.
Prinsip penyusunan
RPP adalah: (a) berorientasi pada silabus mata pelajaran, (b) perumusan
indikator pencapaian kompetensi, pemilihan materi pembelajaran, penyusunan
urutan penyajian materi, serta penilaian hasil pembelajaran dilakukan dengan
mengacu pada SK dan KD yang ada dalam silabus, (c) memperhatikan perbedaan
individual siswa, (d) rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) disusun dengan
memperhatikan kemampuan belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, keragaman
latar belakang budaya, norma dan tata nilai serta lingkungan sekolah, (e)
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) disusun dengan mempertimbangkan
kemungkinan penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi
dan sistematis dalam pembelajaran, (f) mendorong adanya pembelajaran aktif,
kreatif, efektif, dan menyenangkan, (g) proses pembelajaran dirancang dengan
berfokus pada siswa untuk mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif,
inspirasi, kemandirian, dan semangat belajar, serta budaya membaca, menulis,
dam berhitung, (h) dalam penyusunan RPP harus dirancang adanya pemberian
penguatan, umpan baik positif, pengayaan, dan remedial terhadap siswa untuk
mengatasi hambatan belajar siswa, (i) rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara SK, KD, materi
pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi,
penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar dalam satu keutuhan kegiatan, (j)
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) disusun dengan mengakomodasikan
keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.
Menurut BSNP
(2007) ada 9 langkah dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (a)
menuliskan identitas yang meliputi nama mata pelajran, kelas dan semester,
jumlah pertemuan, serta alokasi waktu , (b) menuliskan SK dan KD dari silabus
mata pelajaran yang akan dicapai pada kegiatan pembelajaran tertentu, (c)
menuliskan indikator pencapaian kompetensi yang telah dirumuskan dalam silabus,
(d) merumuskan tujuan pembelajaran. (e) merumuskan materi pembelajaran. Pada
waktu akan merumuskan materi pembelajaran sebaiknya kita memperhatikan pendapat
Bruner yang mengemukakan behwa penyajian materi bisa dimulai dari yang temudah
secara bertahap menuju ke arah materi yang sukar. Dengan kata lain, materi yang
bersifat sederhana sebaiknya dijelaskan lebih dahulu, sehingga apabila diberi
materi yang lebih rumit tidak terlalu kaget. Kemudian hal-hal yang kongret atau
nyata diberikan terlebih dahulu karena mudah, kemudian disusul dengan materi
yang abstrak secara bertahap. (f) menentukan metode pembelajaran. (g) kegiatan
pembelajaran. (h) menentukan sumber belajar, (i) menentukan prosedur penilaian,
dan menyusun instrumen penilaian sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi
dasar.
Berdasarkan
uraian di atas maka guru harus kreaktif dalam menyusun strategi pembelajaran
yang memberikan peluang lebih besar bagi peserta didik untuk melakukan dan
melaporkan. Sebab rencana pembelajaran sebagai bentuk kegiatan perencanaan erat
hubungannya dengan bagaimana sesuatu dapat dikerjakan, oleh karena itu rencana
pembelajarn yang baik adalah rencana pembelajaran yang dapat dilaksanakan
secara optimal dalam pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik.
3. Pembinaan
Profesional dengan Pendekatan Kooperatif
Hasil
penelitian tentang pengaruh guru terhadap hasil belajar peserta didik di
Indonesia sangat rendah sekitar 25 % sedangkan di negara Jepang mencapai 55%.
Ini merupakan tantangan bagi pengawas sekolah dalam melaksanakan pembinaan
profesional terhadap kepala sekolah dan guru. Pembinaan profesional adalah
usaha memberi bantuan pada guru untuk memperluas pengetahuan, meningkatkan
keterampilan mengajar dan menumbuhkan sikap profesional sehingga guru menjadi
lebih ahli mengelola kegiatan belajar mengajar dalam membelajarkan anak didik
(Depdiknas, 1985) Kegiatan ini di bawah koordinasi Cabang dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Kecamatan dan pengawas sekolah sebagai pembina. Kegiatan ini
diwadahi dalam bentuk kelompok kerja guru (KKG). KKG minimal bertemu satu kali
untuk setiap minggu dengan tujuan menyusun strategi pembelajaran dan mengatasi
masalah-masalah yang muncul di kelas.
Pembinaan
profesional guru sebagai suatu sistem di dalamnya terdapat beberapa komponen
yang satu sama lainnya punya peran dan jalinan yang erat,. Komponen-komponen
yang terkait dalam pembinaan profesional adalah: (a) pengawas selaku pembina
guru yang melakukan tugas fungsinya disertai dedikasi dan komitmen terhadap
tugasnya. (b) perangkat gugus sekolah yaitu SD Inti, SD Imbas, dan KKG, (c)
perencanaan program pembinaan melalui kegiatan pelatihan, diskusi, seminar,
tutorial, issu/pokok-pokok masalah, kebutuhan-kebutuhan riil dan praktis dalam
proses belajar-mengajar, jadwal dan pelaksanaan program
Pilihan
terhadap pengembangan pembinaan profesional dengan pendekatan kooperatif
berlandaskan kepada pemikiran bahwa mutu pendidikan yang berkualitas harus
ditangani oleh para pengelola pendidikan yang berkualitas. Peserta didik yang
berkualitas sebagai out put dari proses pembelajaran juga merupakan hasil dari
guru-guru yang berkualitas pula. Untuk itu, peningkatkan mutu tenaga pendidik
yang berkualitas perlu dilakukan pembinaan profesional oleh pengawas sekolah
secara terprogram, terstruktur dan berkelanjutan. Peneliti dalam melaksanakan
pembinaan profesional dengan menggunakan pendekatan kooperatif dengan asumsi
bahwa belajar secara berkelompok akan mudah untuk memecahkan suatu masalah. Hal
ini sejalan pendapat Slavin (1995) yang mengemukakan bahwa siswa akan lebih
mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka dapat
saling mendiskusikan konsep-konsep tersebut dengan temannya. Pembinaan
profesional dengan pendekatan kooperatif peserta belajar bersama dalam
kelompok-kelompok kecil yang saling membantu sama yang lain. Kegiatan pembinaan
disusun dalam kelompok kecil yang terdiri atas 4 orang dengan kemampuan yang
heterogen. Maksud dari kelompok yang heterogen adalah terdiri dari campuran
kemampuan peserta, jenis kelamin, dan suku ( Thomson,1995)
Dalam
pembinaan profesional yang dilakukan oleh peneliti pembentukan kelompok
menggunakan pangkat dan golongan ruang tidak memandang latar belakang
pendidikan. Hal ini dikandung maksud untuk melatih peserta menerima perbedaan
pendapat dan bekerja dengan teman yang berbeda latar belakangnya. Pada
pembinaan profesional dengan pendekatan kooperatif diajarkan keterampilan
khusus agar dapat bekerja sama didalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar
yang baik, memberikan penjelasan teman kelompoknya dengan baik.
Perlu
ditekankan kepada peserta bahwa mereka belum boleh mengakhiri diskusinya
sebelum mereka yakin bahwa seluruh anggota timnya menyelesaikan seluruh tugas.
Peserta diminta menjelaskan hasil kerja yang telah diberikan oleh peneliti.
Apabila seorang peserta memiliki pertanyaan, teman satu kelompok diminta untuk
mmenjelaskan sebelum menanyakan kepada pembina dalam hal ini adalah peneliti
selaku pengawas sekolah di daerah binaannya. Pada saat peserta sedang bekerja
pada kelompok peneliti berkeliling diantara anggota kelompok, memberikan pujian
dan mengamati bagaimana kelompok itu bekerja. Pada saatnya kepada peserta
diberikan evaluasi dengan waktu yang cukup untuk menyelesaikan tes yang
diberikan. Diusahakan peserta jangan bekerja sama dalam mengerjakan tes pada
saat itu harus dapat menunjukkan apa yang mereka pelajari secara individu.
Terdapat 6
fase atau langkah-langkah utama dalam pembinaan profesional dengan pendekatan
kooperatif. Pembinaan dimulai dengan menyampaiakan tujuan kegiatan dan
memotivasi peserta untuk belajar. Fase ini diikuti peserta dengan penyajian
informasi dalam bentuk paparan (teks). Selanjutnya peserta dikelompokkan ke
dalam tim-tim diskusi. Tahap ini diikuti dengan bimbingan dari pengawas selaku
pembina pada saat peserta bekerja sama menyelesaikan tugas mereka. Fase
terakhir dari pembinaan profesional dengan pendekatan kooperatif yaitu
penyajian hasil akhir kerja kelompok, dan mengetes apa yang mereka pelajari
serta memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu.
Berdasarkan
uraian di atas peneliti membuat simpulan bahwa pembinaan profesional yang
dilaksanakan oleh pengawas kepada para guru akan meningkatkan kompetensi guru
apabila dilakukan sesuai dengan langkah-langkah sebagai berikut yaitu dimulai
dengan menyampaikan tujuan kegiatan dan memotivasi peserta untuk belajar kemudian
diikuti peserta dengan penyajian informasi dalam bentuk paparan(teks).
Selanjutnya peserta dikelompokkan ke dalam tim-tim diskusi. Tahap ini diikuti
dengan bimbingan dari pengawas selaku pembina pada saat peserta bekerja sama
menyelesaikan tugas mereka. Kegiatan terakhir dari pembinaan profesional yaitu
penyajian hasil akhir kerja kelompok, dan mengetes apa yang mereka pelajari
serta memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu
4. Hasil
Penelitian Yang Relevan
Beberapa
peneliti yang terdahulu yang relevan dengan penelitian ini dan dapat dijadikan
kajian pustaka antara laian Sri Hastuti (2005) dan Theofilus Sir (2006).
Penelitian Sri Hastuti (2005) berjudul Kontribusi Hasil Pelatihan Guru
danSupervisi Kepala Sekolah Terhadap Profesionalisme Guru.
Hasil
penelitian ini menunjukkan ada kontribusi yanng signifikan antara hasil
pelatihan guru dan profesionalisme guru besarnya 60,7 % dan kontribusi yang
signifikan antara supervisi kepala sekolah terhadap profesionalisme guru ,
besarnya kontrribusi 57,1 %. Kemudian ada kontribusi yang signifikan antara
hasil pelatihan dan supervisi kepala sekolah secara bersama-sama terhadap
profesionalisme guru, besarnya kontribusi 71,4 % .
Thefilus Sir
( 2006) dalam penelitiannya yang berjudul RPP dan Pembelajaran yang Efektif.
Hasil dari penelitian ini bahwa pembelajaran akan tercapai apabila ditunjang
beberapa komponen seperti guru, siswa, materi pembelajaran, sarpras, kurikulum
dan unsur kepengawasan. Pada siklus kedua guru memperlihatkan kemampuan mengembngkan
indikator, persentase meningkat dari 40% menjadi 60%. Secara keseluruhan dari
aspek 1 sampai aspek 9 terjadi peningkatan dari 21,53 %, dari 49,23 % menjadi
70,60 %. Rencana pelaksanaan pembelajaran membuat pembelajaran di kelas dapat
berjalan secara efektif dan efesien sehingga meningkatkan prestasi belajar
siswa.
5. Kerangka
Pikir
Berdasarkan
latar belakang, rumusan masalah dan manfaat,serta kajian teori penelitian yang
berjudul “ Peningkatan Kompetensi Guru Dalam Penggembangan Silabus Melalui Pembinaan
Profesionak dengan Pendekatan Kooperatif” tersebut dengan menggunakan kerangka
pikir sebagai berikut :
Ada
keterkaitan antara Pembinaan Profesional dengan Pendekaatan Kooperaratif dalam
Peningkatkan Kompetensi Guru untuk Pengembangan Silabus dan Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran ( RPP) Di Sekolah Dasar Daerah Binan V Cabang Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes.
METODE
A. Rancangan
Penelitian Tindakan Sekolah
Penelitian
ini adalah penelitian tindakan yang dilaksanakan di sekolah yang pada
hakikatnya digunakan dalan rangka memecahkan masalah-masalah yang timbul dalam
tugas dan fungsi pengawas sekolah. Pelaksanaan penelitian tindakan sekolah
bersifat partisipatif karena melibatkan peneliti sebagai pelaksana
penelitian.dan settingnya adalah kegiatan pembinaan profesional guru yang
dilaksanakan dalam bentuk kegiatan kelompok guru (KKG) dengan materi pembinaan
tentang pengembangkandan penyususnan silabus serta rencana pelaksanaan
pembelajaran kelas (RPP) kelas VI.
B. Subjek dan
Objek Penelitian Tindakan Sekolah
Subjek
penelitian tindakan sekolah ini adalah 12 guru kelas VI yang berada di Daerah
Binaan V Cabang Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kecamatan Wanasari Kabupaten
Brebes.
Objek
penelitian tidakan sekolah ialah silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP) kelas VI sekolah dasar.
C. Prosedur
Penelitian Tindakan
1.
Perencanan
a. Skenario
Tindakan
Penelitian
ini merupakan penelitian tindakan (action research) yang bersifat siklik.
Sedangkan kemampuan yang ditingkatkan adalah kemampuan guru kelas VI dalam
mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Tindakan
diperkirakan sebanyak dua siklus, setiap siklus menggacu paa tujuan dan
permasalahan penelitian. Tindakan pada siklus ke dua tergantung dari refleksi pelaksanaan
siklus sebelumnya dan seterusnya hingga tercapai tujuan yang ingin diharapkan.
b. Perkiraan
Jumlah Siklus
Untuk
mencapai tujuan peninggkatan kompetensi guru dalam pengembangan silabus dan RPP
melalui pendekatan kooperatif dilakukan tindakan yang diperkirakan dua siklus.
Siklus 1 dilaksanakan dalam 2 pertemuan dengan alokasi waktu 3x 60 menit,
pertemuan pertama alokasi waktu 1 x 60 menit kemudian pada pertemuan kedua
dengan alokasi waktu 2 x 60 menit. Pada siklus 2 dilaksanakan dengan mnggunakan
satu pertemuan dengan alokasi waktu 2 x 60 menit.
D. Instrumen
Penelitian
Instrumen
untuk mengukur keberhasilan tindakan berupa:
1. Instrumen
input berupa lembar intrumen pretes penugasan kemampuan awal yang dimiliki oleh
guru dalam mengembangkan silabus dan RPP
2. Instrumen
proses, berupa:
a. Instrumen
pengamatan pengawas, yaitu berupa lembar observasi pada saat pelaksanaan
pembinaan profesional dengan pendekatan kooperatif yang dilakukan oleh teman
pengawas.
b. Instrumen
pengamatan terhadap kelas yang berupa lembar observasi tentang keaktifan
peserta dan kelompok pada waktu mengikuti kegiatan pembinaan profesional dengan
pendekatan kooperatif.
3. Instrumen
Output
Instrumen
ini berbentuk tes penguasaan kemampuan guru dalam mengembangkan silabus dan
rencana pelaksanaan pembelajaran sebagai hasil dari pembinaan profesional.
E. Analisis
Data
1. Analisis
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif. Menurut
Sugiyono (2006) statistik deskriptif digunakan untuk menganalisis data dengan
cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana
adanya tanpa membuat kesimpulan yang belaku secara umum atau generalisasi.
Sehingga dalam penelitian tindakan dengan menggunakan statistik deskriptif
tidak ada uji signifikansi, tidak ada taraf kesalahan, karena peneliti tidak
bermaksud membuat generalisasi. Rumus yang digunakan dalam menganalisis data
hasil post test adalah: Rumus yang digunakan dalam menganalisis data hasil post
test adalah:
1. Rumus
yang digunakan untuk menganalisis data hasil pos tes
2. Rumus
yang digunakan untuk menganalisis data hasil observasi adalah:
F.
Pelaksanaan Tindakan
1. Siklus I
a.
Perencanaan
1.
Mengindentifikasikan dan merumuskan permasalahan
2. Merancang
pembinaan profesional dengan pendekataan kooperatif dengan membentuk kelompok
yang beranggotakan 4 orang, kriteria pembentukan kelompok berdasarkan pada
pangkat dan golongan ruang.
3.
Menyiapkan paparan tentang silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran
4.
Menentukan teman sejawat untuk membantu dalam melaksanakan pengamatan.
5. Menyusun
soal pre test dan post tes
6.
Menyiapakan lembar observasi.
b.
Pelaksanaan
1. Peneliti
melakukan apersepsi pada materi tentang pengembangan silabus dan rencana
pelakasaan pembelajaran sebagai langkah awal mengetahui kemampuan guru dalam
mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran.
2. Peneliti
menyampaikan tujuan yang akan dicapai dalam pembinaan profesional melalui
pendekatan kooperatif .
3.
Mempresentasikan materi tentang silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran
4. Peserta
bekerja secara kelompok dalam mengembangkan silabus dan rencana pelaksaan
pembelajaran.
5. Peserta
berdiskusi untuk menyusun silabus dan rencana pelaksanaan pembelajan dengan
bimbingan dari peneliti secara kelompok.
6. Peserta
pada tiap kelompok menyajikan hasil kerja kelompok di depan peserta.
7.
Membagikan lembar evaluasi
8.
Memberikan penguatan kepada peserta .
9. Menutup
kegiatan.
c. Observasi
1. Observasi
oleh teman sejawat pada saat pemberian pembinaan profesional kepada guru dengan
tujuan untuk mengetahui efektivitas dalam melaksanaan pembinaan profesional.
2. Peneliti
mengamati jalanya proses pembelajaran dalam kelompok dan menilai guru dalam
bekerja dan menyajikan hasil kerja kelompok
3.
Menganalisis data siklus I, dari hasil observasi yang dilakukan
d. Refleksi
Refleksi
merupakan langkah untuk menganalisis semua hasil kegiatan yang sudah
dilaksanakan pada siklus 1. Analisis dilakukan untuk mengukur tentang kelebihan
dan kekurangan hasil kerja pelaksanaan kegiatan pembinaan profesional denggan
pendekatan kooperatif pada siklus I kemudian mendiskusikan hasil dari analisis
untuk merencanakan perbaikan dan penyempurnaan dalam kegiatan pembinaan
profesional guru pada siklus II
1. Siklus II
a.
Perencanaan
1.
Mengindentifikasi dan merumuskan permasalahan
2. Merancang
kegiatan pembinaan profesional dengan pendekatan kooperatif dengan membentuk
kelompok yang beranggotakan 4 orang, kriteria pembentukan kelompok berdasarkan
pangkat golongan ruang.
3.
Menyiapkan paparan tentang silabus dan rencana pelaksanaan
Pembelajaran.
4.
Menentukan teman sejawat untuk membantu dalam melaksanakan
pengamatan.
5. Menyusun
tes kemampuan dalam mengembangkan silabus dan
rencana
pelaksanaan pembelajaran
6.
Menyiapakan lembar observasi.
b.
Pelaksanaan
1. Peneliti
melakukan apersepsi pada materi yang terkait dengan pengembangan silabus dan
rencana pelaksanaan pembelajaran.
2. Peneliti
menyampaikan tujuan yang akan dicapai dalam kegiatan pembinaan profesional
dengan pendekatan kooperatif.
3.
Mempresentasikan tentang silabus dan rencana peelaksanaan pembelajaran.
4. Peserta
bekerja dalam kelompok dalam mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan
pembelajaran
5. Peserta
berdiskusi untuk menyusun silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran dengan
bimbingan dari peneliti secar kelompok.
6. Peserta
menyajikan hasil kerja kelompok di depan kelas
7. Peneliti
membagikan lembar evaluasi.
8. Pemberian
penguatan kepada peserta kegiatan
9. Menutup
kegiatan.
c. Observasi
1. Observasi
oleh teman sejawat pada saat pemberian pembinaan
profesional
kepada guru.
2. Peneliti
mengamati jalanya proses pembelajaran dalam kelompok dan menilai guru dalam
bekerja dan menyajikan hasil kerja kelompoknya
3.
Menganalisis data siklus II, dari hasil observasi yang dilakukan
d. Refleksi
Refleksi
merupakan langkah untuk menganalisis semua hasil kegiatan yang sudah
dilaksanakan pada silkus 2, untuk mendapatkan simpulan apakah hipotesis
tindakan dapat tercapai atau tidak. Sehingga diharapkan pada siklus 2 ini
kemampuan guru dalam mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP) kelas VI dapat meningkat.
E. Indikator
Keberhasilan
Untuk
menentukan berhasil dan tidaknya dalam penelitian tindakan sekolah. Peneliti
merumuskan indikator keberhasilan sebagai berikut :
a.
Meningkatnya aktivitas peserta pembinaan yang ditandai dengan kehadiran
peserta, keberanian peserta dalam mengemukakan pendapat, dan kerja sama dalam
kelompok .
b.
Efektifitas penerapan pendekatan kooperatif dalam pembinaan profesional kepada
guru ditandai dengan aktifnya semua kelompok
c. Adanya
peningkatan nilai rata-rata tes akhir yang dicapai oleh peserta dalam
penguasaan tentang silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran, ditandai
dengan nilai ketuntasan lebih dari 70.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Hasil
Penelitian Siklus 1
a.
Perencanaan
Untuk
melaksanakan siklus 1 didahului dengan menyusun materi tentang silabus dan
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), Selanjutnya materi pengembangan rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP) meliputi pengertian rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP), komponen RPP, prinsip-prinsip penyusunan RPP, dan
langkah-langkah penyusunan RPP, kemudian membentuk kelompok menjadi 3 dengan
anggota setiap kelompok 4 orang.
b. Tindakan
Hasil dari
pre test terhadap peserta pembinaan sebesar 59,3. Pada akhir kegiatan tindakan,
peneliti mengadakan post test terhadap peserta. Adapun hasilnya dapat diperoleh
sebesar 65,31
c.
Pengamatan
1. Hasil
pengamatan penelitian dari teman sejawat kepada pembina pada siklus 1 ditemukan
hal-hal sebagai berikut : (a) pembentukan kelompok tidak terencana dengan baik
karena hanya berdasarkan pangkat dan golongan ruang. (b) peneliti kurang dalam
menjelaskan cara-cara bekerja dalam kelompok. (c) peneliti dalam memberikan
dampingan selama melakukan pembinaan kurang merata. (d) peneliti kurang
memberikan motivasi pada peserta untuk dapat aktif dalam kegiatan pembinaan.
Prosentase hasil pengamatan setelah direkapitulasi didapat hasil perolehan
dalam prosentase : 60%. Prosentase tersebut di atas diperoleh dari perbandingan
antara harapan dengan rekapitulasi hasil pengamatan.
2. Hasil
pengamatan terhadap perserta ada beberapa hal yang ditemukan diantaranya : (a)
masih ada peserta yang tidak memperhatikan pada saat pembina memberikan
informasi, (b) masih ada peserta yang tidak dapat bekerja sama dengan
kelompoknya, (c) masih terdapat egoisme peserta dengan tidak mau membagi
pengetahuan pada anggota kelompok yang lain, (d) masih banyak peserta yang
belum memahami dalam mengembangkan silabus dan RPP.. Prosentase hasil pengamatan
setelah direkapitulasi didapat hasil perolehan dalam prosentase : 72%.
Prosentase tersebut di atas diperoleh dari perbandingan antara harapan dengan
rekapitulasi hasil pengamatan.
3. Hasil
pengamatan terhadap kelompok , diperoleh temuan sebagai berikut : (a) masih
ditemukan peserta kurang berpartisipasi pada kegiatan kelompoknya. (b) tugas
kelompok masih didominasi oleh satu peserta atau dua peserta saja, (c)
komunikasi baru satu arah. (d) masih terdapat peserta yang tidak mau
mengerjakan tugas dalam kelompok. Prosentase hasil pengamatan setelah
direkapitulasi didapat hasil perolehan dalam prosentase : 66%. Prosentase
tersebut di atas diperoleh dari perbandingan antara harapan dengan rekapitulasi
hasil pengamatan.
d. Refleksi
Setelah
dilakukan pengamatan pada siklus 1 maka diadakan refleksi. Hasil proses
refleksi adalah sebagai berikut: (1) presensi dilakukan pada akhir pertemuan
dan terkesan kelupaan. (2) persepsi kurang, tidak menyampaikan materi prasyarat
sehingga peserta kurang siap mempelajari materi yang diajarkan. (3) pembentukan
kelompok tidak terencana dengan baik, karena hanya didasarkan pangkat dan
golongan ruang, . (4) peneliti kurang dalam menjelaskan cara-cara kerja
kelompok,. (5) peneliti dalam memberikan bimbingan kurang merata, sehingga ada kelompok
yang bingung tidak mendapat bagian. (6) masih banyak ditemukan peserta tidak
berpartisipasi pada kegiatan kelompoknya, bahkan mengobrol dengan sesamanya.
(7) masih banyak ditemukan tugas kelompok didominasi oleh satu atau dua peserta
saja. (8) pada saat pelaksanaan post test peneliti tidak mencermati tempat
duduk pesert. (9) masih banyak ditemukan kelompok yang salah dalam menyusun
silabus dan RPP. (10) ketidakaktifan kerja sama kelompok juga terlihat dari
hasil pos test .
2. Hasil
Penelitian Siklus 2
a.
Perencaaan
Untuk
melaksanakan siklus 2 didahului dengan menyusun materi tentang silabus dan
rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Kemudian membentuk kelompok menjadi 4
dengan anggota setiap kelompok 4 orang sedangkan kriteria yang digunakan dalam
pembentukan kelompok berdasarkan pangkat dan golongan ruang peserta pembinaan,
dan menyusun lembar observasi, menyusun soal pre test, dan post test.
b. Tindakan
Hasil test
kemampuan peserta terhadap penguasaan materi silabus dan RPP pada siklus 2
sebesar 78,75
c.
Pengamatan
1.Hasil
pengamatan penelitian dari teman sejawat kepada pembina pada siklus 2 ditemukan
hal-hal sebagai berikut : (a) pembentukan kelompok terencana dengan baik
berdasarkan pangkat, golongan ruang dan kesetaraan jender (b) peneliti menjelaskan
dengan baik cara-cara bekerja dalam kelompok. (c) peneliti dalam memberikan
dampingan selama melakukan pembinaan merata. (d) peneliti memberikan motivasi
pada peserta untuk dapat aktif dalam kegiatan pembinaan. Prosentase hasil
pengamatan setelah direkapitulasi didapat hasil perolehan dalam prosentase :
86%. Prosentase tersebut di atas diperoleh dari perbandingan antara harapan
dengan rekapitulasi hasil pengamatan.
2. Hasil
pengamatan terhadap perserta ada beberapa hal yang ditemukan diantaranya : (a) semua
peserta sangat baik dalam memperhatikan materi pembinaan, (b) peserta sudah
dapat bekerja sama dengan kelompoknya, (c) tidak ada egoisme peserta,, (d)
peserta sudah memahami dan mengusai materi pengembangan silabus dan rencana
pelaksanaan pembelajaran. Prosentase hasil pengamatan setelah direkapitulasi
didapat hasil perolehan dalam prosentase : 88%. Prosentase tersebut di atas
diperoleh dari perbandingan antara harapan dengan rekapitulasi hasil
pengamatan.
3.Hasil
pengamatan terhadap kelompok , diperoleh temuan sebagai berikut : (a) peserta
berpartisipasi aktif pada kegiatan kelompoknya. (b) semua peserta sudah
mengerjakan tugas dalam kelompoknya, (c) komunikasi multi arah. (d) peserta
aktif mengerjakan tugas dalam kelompok. Hal ini dapat dilihat dari skor
perolehan dari hasil pengamatan pembina terhadap kelompok sebesar 40 sehingga
dapat diperoleh kualifikasi sering (baik) maksudnya kelompok sering mengajukan
pertanyaan dan sering menyampaikan saran dan pendapat. Prosentase hasil
pengamatan setelah direkapitulasi didapat hasil perolehan dalam prosentase :
80%. Prosentase tersebut di atas diperoleh dari perbandingan antara harapan
dengan rekapitulasi hasil pengamatan.
d. Refleksi
Setelah
dilakukan pengamatan pada siklus 2 maka diadakan refleksi pada semua kegiatan
yang telah dilakukan. Hasil proses refleksi adalah sebagai berikut (1) presensi
dilakukan pada awal sebelum kegiatan dimulai. (2) apersepsi sudah baik dengan
menyampaikan materi prasyarat sehingga peserta sudah siap mempelajari materi
yang akan diberikan oleh pembina (3) pembentukan kelompok sudah terencana
dengan baik, karena menggunakan kriteria pangkat dan golongan tanpa memandang
jenis kelamin dan latar belakang pendidikan,(4)peneliti merencankan kegiatan
pembinaan dengan baik dengan menggunakan media LCD sehingga mempermudah peserta
untuk memahami informasi yang diberikan. (5) peneliti sangat jelas dalam
menjelaskan cara-cara bekerja kelompok yaitu yang mampu membantu yang kurang
mampu. (6) peneliti dalam memberikan bimbingan sudah merata, sehingga semua
kelompok mendapatkan dampingan yang sama. (7) semua peserta pembinaan sudah
berpartisipasi pada kegiatan kelompoknya dalam bentuk diskusi. (8) tugas
kelompok tidak didominasi oleh satu atau dua anak saja sebab semua sudah aktif
memberikan masukkan dalam berdiskusi kelompok. (9) pada saat pelaksanaan tes
akhir peneliti mencermati tempat duduk peserta sehingga tidak ada peserta dalam
satu kelompok duduk berdampingan. (10) peserta sudah baik dalam mengerjakan
tugas yang diberikan oleh penelit, ini menunjukkan peneliti sudah memberi
penekanan pada bagian yang penting dan harus dicermati peserta. (11) semua
peserta aktif dalam kerja sama kelompok.
B.
Pembahasan
Dengan
melihat hasil penelitian di atas dan dipadukan dengan hasil tes pada
masing-masing siklus maka dapat dijelaskan bahwa:
1. Siklus I
Dari hasil
pengamatan teman sejawat yang menjadi pengamat, aktivitas pembina pada siklus I
ini masih ada yang harus diperbaiki, yaitu pada pemberian bantuan kepada
peserta masih belum merata sehingga terkesan kurang adil.. Kelemahan pembina
pada siklus I ini juga nampak pada kurangnya memberi penghargaan terhadap upaya
peserta secara individu maupun kelompok.
Aktivitas
kelompok pada siklus I ini masih kurang, hal ini nampak dari hasil pengamatan
masih terlihat partisipasi anggota kelompok kurang baik, tugas kelompok masih
didominasi oeh satu atau dua siswa saja. Sedangkan dari hasil pengamatan
aktivitas peserta pada siklus I ini juga masih banyak kelemahan, hal ini nampak
dari masih adanya peserta yang pasif dan nampak bingung tidak tahu apa yang
harus dilakukan, bahkan masih ada yang nampak canggung untuk mendekat temannya
dan belum ada keberanian untuk bertanya dan mengungkapkan pendapatnya.
Dengan
melihat hasil di atas, maka perlu dilakukan perbaikan-perbaikan antara lain
pembina supaya lebih pandai memberi penghargaan pada usaha peserta baik secara
individu maupun secara kelompok. Agar kegiatan pembinaan dapat berhasil,
peserta diberi penjelasan lagi bagaimana cara bekerja dalam kelompok, peserta
disadarkan lagi bahwa keberhasilan pada kegiatan pembinaan ini tidak dapat
ditentukan oleh orang per orang melainkan oleh tim. Artinya penghargaan tidak
diberikan kepada perorangan melainkan diberikan kepada tim dengan kinerja baik.
Kesimpulan
pada siklus I ini kegiatan pembinaan belum berhasil karena banyak tolok ukur
yang belum tercapai seperti masih ditemukan anggota kelompok yang tidak
bekerja, masih ada peserta yang salah dalam mengerjakan tuga, peserta yang
bertanya dan mengungkapkan pendapat baru sedikit, dan kerja sama antar peserta
masih kurang.
Dengan
demikian perlu dilakukan tindak lanjut untuk memperbaiki kegiatan pembinaan
dengan melaksanakan siklus II.
2. Siklus II
Pada
pelaksanaan siklus II, pembagian anggota kelompok diulang dengan berdasarkan
kesepakatan bersama supaya peserta yang mampu tidak mengelompok. Peserta
perempuan dibagi merata pada tiap kelompok . Ternyata dari perubahan kelompok
ini, komposisi anggota kelopok lebih baik, dan juga kesadaran tiap peserta
tentang arti bekerja sama semakin baik.
Hal ini
nampak dari hasil pengamatan aktivitas kelompok maupun aktivitas peserta
menunjukkan perbaikan. Semua indikator yang diamati semua berhasil baik,
aktivitas pembina berjalan baik, aktivitas kelompok berjalan baik tidak lagi
didominasi oleh satu atau dua peserta, tetapi seluruh anggota kelompok berperan
sesuai kemampuan mereka masing-masing yang kemampuan diatas teman-teman peserta
membantu yang kemampuannya kurang dan sebaliknya yang merasa kemampuannya
kurang ada keinginan untuk terus berusaha. Hasil pengamatan terhadap pembina
(pengawas) oleh teman sejawat ada peningkatan dari 60% menjadi 86% berarti ada
peningkatan sebesar 26%, pengamatan terhadap peserta juga peningkatan dari
perolehan 72% menjadi 88% sehingga ada peningkatan sebesar 16%, kemudian hasil
pengamat terhadap kelompok dari 66% menjadi 80% meningkat sebesar 14%.
menunjukkan semua peserta mampu menyusun silabus dan RPP. Selanjutnya hasil tes
kemampuan penguasaan tentang silabus dan RPP ada peningkat nilai rata-rata
yaitu dari nilai 65,31 pada siklus 1 menjadi 78,75 pada siklus 2 sehingga nilai
rata-rata meningkat 13,44.
Simpulan
pada siklus II, terjadi peningkatan kompetens guru dalam mengembangkan silabus
serta RPP dengan pendekatan kooperatif. Hal ini disebabkan karena peserta
semakin aktif dalam mengikuti proses pembinaan. Dengan menerapkan pendekatan
kooperatif dalam pembinaan profesional guru, pada akhirnya guru menjadi lebih
sadar akan pentingnya bekerja sama dalam memecahkan suatu masalah. Mereka
menjadi mengerti bagaimana cara menyusun dan mengembangkan silabus dan rencana
pelaksanaan pembelajaran yang baik sesuai dengan karakteristik mata pelajaran
dan kondisi sekolah, dan menyadari bahwa dengan bekerja sama akan dengan mudah
setiap permasalahan dan persoalan dalam pembelajaran di kelas dapat dipecahkan
dan dicarikan solusinya dengan tepat.
SIMPULAN DAN
SARAN
A. Simpulan
Hasil
analisis data yang diperoleh dari hasil pengamatan terhadap pemibina/peneliti,
pengamatan peserta pembinaan dan kelompok telah menunjukkan bahwa kualifikasi pelaksanaan
pembinaan profesional dengan pendekatan kooperatif terhadap guru kelas VI di
daerah binaan (DABIN) V Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan
Wanasari Kabupaten Brebes dalam menyusun silabus dan RPP kategori baik.
Peneliti dapat menyimpulkan sebagai berikut
1. Kemampuan
guru/peserta dalam memahami tentang silabus dan perencanaan pelaksanaan
pembelajaran pada semester I tahun pelajaran 2007/2008 meningkat yakni
rata-rata dari 65,31 menjadi 78,75.
2. Aktifitas
peserta dalam pembinaan profesional guru kelas VI daerah binaan (DABIN) V
Cabang Dinas P dan K kecamatan Wanasari Brebes tahun pelajaran 2007/2008
meningkat dari 46% menjadi 88%, ditandai dengan.
a.
Keberanian peserta mengajukan pertanyaan dan mengemukakan permasalahan yang ada
di sekolah dalam diskusi dari siklus I, dan siklus II terus meningkat.
b. Kerja
sama antar peserta pembinaan dari siklus I dan II semakin baik.
3. Aktifitas
kelompok dalam pembinaan profesional guru kelas VI daerah binaan (DABIN) V
Cabang Dinas P dan K Kecamatan Wanasari Brebes tahun pelajaran 2007/2008
meningkat dari 48% menjadi 90%, ditandai dengan:
a.
Keberanian kelompok sering mengajukan pertanyaan dan penyampaian pendapat dan
saran dalam diskusi.
b. Kerja
sama antar peserta dalam kelompok meningkat.
B. Saran
1. Pembinaan
profesional yang dilakukan oleh pengawas kepada guru sekolah dengan pendekatan
kooperatif sebagai salah satu alternatif dalam meningkatkan kompetensi guru,
sehingga dapat dipakai oleh teman-teman pengawas sekolah dasar dalam melakukan
pembinaan di daerah binaannya.
2. Pengawas
sekolah supaya selalu mengembangkan diri dan dapat menggunakan pendekatan yang
sesuai dengan karakteristik daerah binaannya dan menerapkan guru sebagai subjek
dalam kegiatan pembinaan sehingga akan mengahasilkan guru yang profesional .
3. Pengawas
sekolah harus memotifasi guru untuk menacapai yang terbaik dan mampu
mengharagai setiap peserta yang positif.
Dan sebagai
penutup, penulis berharap semoga hasil penelitian tindakan sekolah ini
bermanfaat dan dapat menambah wawasan serta memotifasi pada semua pengawas
untuk lebih kreatif dalam melaksanakan pembinaan sehingga menciptakan guru yang
mampu melaksanakan pembelajaran yang aktif, kreaktif dan menyenangkan yang pada
akhirnya dapat meningkatkan mutu pendidikan.
DAFTAR
PUSTAKA
Departemen
Pendidikan Nasional, 2008. Petunjuk TeknisPenelitian Tindakan Sekolah,
Dirjen PMTK: Jakarta.
Departemen
Pendidikan Nasional, 2007. Pedoman Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan di SD, BNSP: Jakarta.
Departemen
Pendidikan Nasional, 2007. Model Silabus di Sekolah Dasar, BNSP:
Jakarta.
Departemen
Pendidikan Nasional, 2007. Model Rencana Pelaksanaan Pembelajaran di Sekolah
Dasar, BNSP: Jakarta.
Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan,1995. Pedoman Pembinaan Profesional Sekolah Dasar
, Dikdasmen: Jakarta
Muslich,
Mansur ((2007) ,Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontektual, Bumi
Aksara: Jakarta.
Lundgren,
Linda. 1994. Cooperative Learning in The Science Classroom. New York:
Gleoncoe Maemillan Mc Graw Hill.
Salma, Dewi,
2008. Prinsip Disain Pembelajaran (Instructional Design rinciples).
Universitas Negeri Jakarta: Jakarta.
Suparman, M.
Atwi. 1997. Disain Instruksional. Jakarta: PAU PPAI Universitas Terbuka.
Reigeluth, Charles M. 1983. Instructional
Design: Theories and Models. New York: Lawrence Erlbaum Associates, publ.