SELAMAT DATANG

GURU SEJATI adalah tempatku belajar dari apa yang aku baca, aku lihat, aku dengar dan aku rasakan, dan berbagi dengan sesama insan yang belajar. GURU SEJATI bukanlah aku atau diriku. GURU SEJATI adalah semangatku dalam mengapai ilmu dan ridho-Nya.adalah semangatku dalam mengapai ilmu dan ridho-Nya.GURU SEJATI adalah proses belajar dan mencari jati diri.

Kamis, Mei 14, 2009

SERTIFIKASI GURU Apakah BIKIN SUSAH?

Baru mendengar istilah sertifikasi guru aku langsung terperana. Betapa inginnya aku lulus dalam setifikasi guru. Janji akan mendapatkan tunjangan gaji 2 kali gaji pokok membuatku seakan-akan kembali ke masa di mana aku baru pertama kali diangkat menjadi guru. Semangatku timbul dan bergelora. Aku menjadi rajin mendadak. Administrasi aku kerjakan selengkap-lengkapnya agar mendapat poin yang tinggi pada penilaian oleh atasan dan pengawas. Berbagai kegiata seminar atau forum ilmiah aki ikuti. Tidak poeduli uang di kantng menipis dan mamaksaku memakai uang tabungan siswa yang belum akau setorkan ke bendahara sekolah. Tak ketiunggalan. Istriku yang masih GTT (guru tingak tinguk) juga memiliki semangat yang menggelora untuk mengikutoi berbagai seminar yang dilaksanakan di berbagai kota. Tak kenal lelah tak kenal capai. Begitu mendengar akan ada kegiatan seminar, aku berusaha untuk segera mendaftarkan diri mengikuti kegiatan tersebut. Semua kulakukan untuk mengejar nilai portopolioku yang masih jauh dari 850 agar bisa lulus sertifikasi.

Bikin susah
Memang, kegiatan mengumpulkan portopolio untuk penilaian sertifikas guru membutuhkan usaha keras agar bisa mendapatkan poin nilai tinggi. Kalau bisa setinggi mungkin. Menurut yang aku dengar dari teman-teman guru, mereka seakan menghadapi ketakutan yang hampir sama di kalangan guru yang akan mengikuti uji sertifikasi guru. Ketakutan tersebut hampir dirasakan sebagian besar guru yang nota bene bukan guru aktif, bukan guru yang “terpakai” dalam berbagai kegiatan pendidikan, dan guru-guru yang memiliki masa kerja sedikit. Umumnya mereka telah merasakan bahwa dirinya tidak lulus sertifikasi sebelum mengikutinya. Jadi , ini bisa dikatakan semacam ‘sindrom sertifikasi” yang menular kepada guru-guru “pinggiran”. Keadaan seamacam ini bagi beberapa orang guru memang bikin susah. Namun tidak sedikit dari mereka yang dapat memacu diri untuk mengumpulkan portopolio seabanyak-banyaknya. Beberapa temanku mempunyai proyek pembuatan “Surat Keterangan” berbagai kegiatan dalam jumlah yang banyak dan mendadak, yang boleh jadi kegiatan tersebut hanya mengada-ada, atau memang benar-benar dilaksanakan pada masa lampau, namun tidak ada bukti fisiknya.

Hal lain yang dirasakan bahwa portopolio itu bikin susah adalah, sempitnay waktu yang disediakan untuk menyusun berkas portopolio. Dalam waktu satu minggu sejak ada pengumuman jumlah kuota dan daftar peserta sertifikasi, pemberkasan harus selesai. Belum lagi kendala tidak adanya blangko isian atau instrumen penilaian portopolio. Ini yang membuat guru kalang kabut cari sana-cri sini sendiri, karena blangko tersebut ternyata tudak disediakan oeh dinas pendiidkan.

Inikah potret dunia pendidikan di Indopnesia, atau jangan-jangan hanya di kecamatan ku saja. Aku tidak peduli.



Ditulis pada 6 Mei 2008, oleh Untung Sutikno,S.Pd,
Guru SDN Rungkang 02 Losari Brebes.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ayo donk... beri komentar, ya.. Makasih....