SELAMAT DATANG

GURU SEJATI adalah tempatku belajar dari apa yang aku baca, aku lihat, aku dengar dan aku rasakan, dan berbagi dengan sesama insan yang belajar. GURU SEJATI bukanlah aku atau diriku. GURU SEJATI adalah semangatku dalam mengapai ilmu dan ridho-Nya.adalah semangatku dalam mengapai ilmu dan ridho-Nya.GURU SEJATI adalah proses belajar dan mencari jati diri.

Minggu, Mei 24, 2009

Primbon Capres-Cawapres 2009


by Guskar

Membaca, mengenali dan mengoptimalkan potensi diri sendiri akan menemukan guru sejati, sejatinya guruMencermati berita terjadinya perselingkuhan politik untuk mendapatkan calon ideal capres dan cawapres yang akan bertanding di arena pilpres Juli nanti, akhirnya KPU menerima pendaftaran tiga pasang calon presiden-wakil presiden. Pasangan yang pertama datang adalah Jusuf Kalla-Wiranto, menyusul Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto, kemudian Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono.

TV di kamar kerja saya on 24 jam, bahkan saya bela-belain menunggu hasil pembicaraan kubu Mega dan kubu Prabowo yang hampir tengah malam mereka mendeklarasikan diri sebagai pasangan capres-cawapres. Hujan deras, petir menggelegar, menyambar antena TV saya, terjadi korslet dan TV pun meledak, dentumannya membuat saya kaget dan jatuh pingsan. Aneh bin ajaib, begitu siuman seolah saya bisa membaca masa depan. Secara telepati saya bisa berkomunikasi dengan Mama Laurent, Ki Joko Bodo, bahkan dengan mBah Marijan. Otak saya penuh dengan memori ketiga pasangan capres-cawapres itu. Rupanya saya telah menjelma menjadi dukun tiban! Ponari jadi dukun tiban karena petir Ki Ageng Sela menyentuh sebuah batu, sedangkan kasus saya petir itu merambati TV saya.

Inilah primbon ketiga pasangan capres-cawapres kita, menggunakan ilmu othak-athik gathuk, Anda percaya syukur nggak percaya ya nggak apa-apa.

Dari cara ijab-kabulnya
Ibarat pasangan pengantin, ada satu proses yang harus dilalui sebelum ijab-kabul dilakukan di depan penghulu, yaitu perjodohan. Jusuf Kalla-Wiranto ini kawin atas dasar cinta yang suci, saling membutuhkan satu sama lain. SBY-Boediono, kawin dilakukan tanpa restu keluarga. Baru menyampaikan nama calon pasangannya saja sudah menuai protes dari kerabat dekat dan keluarga besarnya. Barangkali dengan suatu iming-iming (hanya mereka yang tahu), akhirnya dengan keterpaksaan mereka menyetujui pasangan ini untuk menikah. Lalu bagaimana dengan Megawati-Prabowo? Ini yang disebut dengan kawin paksa. Demi suatu kepentingan, mereka harus kawin. Pembicaraan sangat alot, siapa melamar siapa, hal ini untuk menentukan siapa nanti yang jadi kepala rumah tangganya.

Dari cara deklarasinya
Sederhana, itu kesan yang timbul dari acara deklarasi pasangan Jusuf Kalla-Wiranto. Mereka saling memuji keunggulan pasangannya. Mengumbar senyum, foto bersama dengan menggandeng istri masing-masing. Deklarasi SBY-Boediono, dipersiapkan dengan matang, terkonsep, menebarkan pesona dari Bandung Kota Lautan Api dan berbudget lumayan besar. Bahkan, seorang gubernur – yang nyata-nyata sudah menjadi milik publik, didapuk untuk membacakan pernyataan sikap dukungan terhadap pasangan ini. Deklarasi Megawati-Prabowo sungguh tidak terencana dengan baik, terlihat dan terkesan asal-asalan yang penting menyatakan kalau mereka sekarang jadi pasangan capres-cawapres.

Dari nama-nama mereka
Jusuf Kalla-Wiranto, mereka menyebutnya menjadi JK-Win. Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono, disebut dengan SBY Berbudi, sedangkan Megawati-Prabowo disebut dengan Mega-Pro.

Kalau mau ke SuraBaYa, naiklah bus PO Berbudi dijamin lebih cepat daripada naik Honda MegaPro, apalagi hanya menggunakan Honda Win.

Masih dari nama-nama mereka. Ambil salah satu unsur nama (bisa bagian depan, tengah atau belakangnya).

Tanya : Pasangan ini menang apa kalah sih?

Jawab : Loh, kamu nggak tahu, mereka Kalla(h) To(h)?!

Tanya : Kalau pasangan ini, kamu mau pilih nggak?

Jawab : No!!! No!!!

Tanya : Kalau yang paling cantik ini?

Jawab : Wow….. Gawat!

Dari nomor partainya
JK-WIN diusung partai utama Golkar (23) dan Hanura (1). Kalau digabung 231, artinya kemungkinan dalam pilpres nanti bisa nomor 2, bisa nomor 3, bisa juga nomor 1. SBY Berbudi diusung partai utama Demokrat (31). Ya, kalau tidak nomor urut 3, ya nomor urut 1. Mega-Pro diusung partai utama PDIP (28) dan Gerindra (5), kalau dijumlah 33. Sabar deh, hanya satu kemungkinan : nomor 3!

Dari cara pendaftaran ke KPU
JK-WIN, mereka berjalan kaki sekitar 1 km dari kediaman dinas JK. Meskipun jalan kaki, mereka membuktikan yang paling cepat, sejak mulai berkoalisi, deklarasi hingga mendaftarkan diri ke KPU. Lebih cepat lebih baik, katanya. Jalan kaki sungguh tindakan menyehatkan badan, peduli global warming, dan mereka menunjukkan bahwa untuk mencapai kekuasaan harus berkeringat dulu. Pendaftar berikutnya pasangan Mega-Pro, mereka tidak jalan kaki takut dituduh ikut-ikutan pasangan sebelumnya. Mereka menggunakan mobil Lexus (mobil ini kalau dijual dan dibagikan ke rakyat dalam bentuk BLT ada berapa orang yang kebagian ya?). Bagaimana dengan SBY Berbudi? Karena jaraknya jauh, yaitu dari Puri Cikeas, pasangan ini datang dengan kawalan ekstra ketat. Selama perjalanan, pasti menutup jalan sana-sini untuk kelancaran sang incumbent. Kabarnya, kotoran jalanan bekas minuman gelas dan lainnya dibersihkan, termasuk membersihkan pedagang asongan yang berjualan di dekat kantor KPU. Belum-belum sudah mematikan ekonomi kerakyatan ya?

Saya hanya dukun tiban, yang bisa jadi setelah menuliskan primbon ini kesaktian saya musnah, tetapi paling tidak primbon capres-cawapres super ngawur ini sudah terdokumentasikan di sini. Sumonggo kersa!
====================================
Sumber :http//sukarnosuryatmojo.wordpress.com
Nb:
Setelah melaksanakan kawin paksa dan secara siri, pasangan Mega-Pro akhirnya merayakan pesta perkawinannya di TPA Bantargebang. Ini dilakukan untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa mereka berdua telah berpasangan secara resmi.
Kita tunggu kabar berikutnya yuuk.....

Kumpulan Puisi dalam Novel : Ayat-Ayat Cinta


Kumpulan puisi dari novel AYAT-AYAT CINTA
karya : Habiburrahman El Shirazy

Ayat-ayat Cinta terpilih sebagai The Most Faforite book
Suatu saat ketika aku sedang jalan-jalan di sebuah mall aku sempatkan mampir ke toko Buku. Iseng-iseng aku pingin mencari buku bacaan ringan atau buku-buku teknik komputer. Tapi ketika aku melihat di tempat pajangan buku baru, aku langsung tertarik pada Novel Ayat-Ayat Cinta. Aku langsung baca omentar tentang buku ini pada sampul bagian belakang. Ternyata buku ini terpilih sebagai The Most Faforite book, berbeda selisih 4 suara dengan Harry Potter. Tanpa pikir panjang aku langsung beli buku ini.
Malam hari aku mulai membaca lembar demi lembar. dan anehnya, aku merasa seperti kecanduan, gak mau pisah dengan ayat-ayat cinta ini dan membaca sampai selesai dalam satu malam.
Wuihhhh.., cerita yang Kang Abik buat ini sungguh menyentuh hati, sampai-sampai aku berkali-kali tanpa sadar meneteskan air mata . Hatiku gerimis membaca Ayat-ayat Cinta. Akhir ceritnya juga sangat mengharukan, husnul khotimah.
Kang Abik yang terhormat dan yang aku kagumi. Setelah membaca novel Ayat-ayat Cinta, aku sangat terkesan, padahal aku bukan orang yang hobi membaca novel. Maka sebagai bentuk kekagumanku pada Kang Abik, aku sadur puisi-puisi dalam Ayat-ayat cinta dengan sedikit perubahan (aku beri judul sendiri, karena puisi aslinya tidak berjudul, semoga tidak mengurangi makna dari isi puisi tersebut. Maaf ya Kang Abik).
Inilah puisinya :



Aku bersujud

ya Allah
kekalkan cinta kami di dunia dan akhirat
ya Allah
masukkan kami ke dalam surga firdaus-Mu
agar kami dapat terus bercinta selama-lamanya
ya Alah
berikan sentuhan cinta-Mu yang agung
tiada kuasa aku berbuat
kecuali bersujud kepada-Mu
Illahi, setiap kali bila kurenungkan kemurahan-Mu
yang begitu sederhana mendalam
akupun tergugu
dan membulatkan sembahku pada-Mu


Asa

pada-Mu
kutitipkan secuil asa
kau berikan selaksa bahagia
pada-Mu
kuharapkan setetes embun cinta
kau limpahkan samudera cinta


Bidadarriku

namamu tak terukir
dalam catatan harianku
asal usulmu tak hadir
dalam diskusi kehidupanku
wajah wujudmu tak terlukis
dalam sketsa mimpi-mimpiku
indah suaramu tak terekam
dalam pita batinku
namun kau hidup mengaliri
pori-pori cinta dan semangatku
sebab
kau adalah hadiah agung
dari Tuhan
untukku
bidadariku



Mata Bundaku

selalu saja kurindu
abad-abad terus berlalu
berjuta kali berganti baju
nun jauh di sana mata bening menatap haru
penuh rindu
mata bundaku
yang selalu kurindu


Lumpur hitam

aku adalah lumpur hitam
yang mendebu
menempel di sandal dan sepatu
hinggap di atas aspal
terguyur hujan
terpelanting
masuk comberan
siapa sudi memandang
atau megulurkan tangan?
tanpa uluran tangan Tuhan
aku adalah lumpur hitam
yang malang


Lesu

rinai tangis dalam hatiku
bagai hujan di kota
apa gerangan makna lesu
yang menyusup masuk kalbuku?



Puisi paling berharga

agar dapat melukiskan hasratku, kekasihku,
taruh bibirmu seperti bintang di langit kata-katamu,
ciuman dalam malam yang hidup,
dan deras lenganmu memeluk daku
seperti suatu nyala bertanda kemenangan
mimpiku pun berada dalam
benderang abadi.



Bidadari

alangkah manis bidadariku ini
bukan main elok pesonanya
matanya berbinar-binar
alangkah indahnya bibirnya
mawar merekah di tama surga
maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
seakan-akan bidadari itu seperti permata Yajut dan marjan
maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula
maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
mereka bertelekan bantal-bantal yang hijau
dan permadani indah
maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
mahaagung nama Tuhanmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Karunia

Kamis, Mei 14, 2009

SERTIFIKASI GURU Apakah BIKIN SUSAH?

Baru mendengar istilah sertifikasi guru aku langsung terperana. Betapa inginnya aku lulus dalam setifikasi guru. Janji akan mendapatkan tunjangan gaji 2 kali gaji pokok membuatku seakan-akan kembali ke masa di mana aku baru pertama kali diangkat menjadi guru. Semangatku timbul dan bergelora. Aku menjadi rajin mendadak. Administrasi aku kerjakan selengkap-lengkapnya agar mendapat poin yang tinggi pada penilaian oleh atasan dan pengawas. Berbagai kegiata seminar atau forum ilmiah aki ikuti. Tidak poeduli uang di kantng menipis dan mamaksaku memakai uang tabungan siswa yang belum akau setorkan ke bendahara sekolah. Tak ketiunggalan. Istriku yang masih GTT (guru tingak tinguk) juga memiliki semangat yang menggelora untuk mengikutoi berbagai seminar yang dilaksanakan di berbagai kota. Tak kenal lelah tak kenal capai. Begitu mendengar akan ada kegiatan seminar, aku berusaha untuk segera mendaftarkan diri mengikuti kegiatan tersebut. Semua kulakukan untuk mengejar nilai portopolioku yang masih jauh dari 850 agar bisa lulus sertifikasi.

Bikin susah
Memang, kegiatan mengumpulkan portopolio untuk penilaian sertifikas guru membutuhkan usaha keras agar bisa mendapatkan poin nilai tinggi. Kalau bisa setinggi mungkin. Menurut yang aku dengar dari teman-teman guru, mereka seakan menghadapi ketakutan yang hampir sama di kalangan guru yang akan mengikuti uji sertifikasi guru. Ketakutan tersebut hampir dirasakan sebagian besar guru yang nota bene bukan guru aktif, bukan guru yang “terpakai” dalam berbagai kegiatan pendidikan, dan guru-guru yang memiliki masa kerja sedikit. Umumnya mereka telah merasakan bahwa dirinya tidak lulus sertifikasi sebelum mengikutinya. Jadi , ini bisa dikatakan semacam ‘sindrom sertifikasi” yang menular kepada guru-guru “pinggiran”. Keadaan seamacam ini bagi beberapa orang guru memang bikin susah. Namun tidak sedikit dari mereka yang dapat memacu diri untuk mengumpulkan portopolio seabanyak-banyaknya. Beberapa temanku mempunyai proyek pembuatan “Surat Keterangan” berbagai kegiatan dalam jumlah yang banyak dan mendadak, yang boleh jadi kegiatan tersebut hanya mengada-ada, atau memang benar-benar dilaksanakan pada masa lampau, namun tidak ada bukti fisiknya.

Hal lain yang dirasakan bahwa portopolio itu bikin susah adalah, sempitnay waktu yang disediakan untuk menyusun berkas portopolio. Dalam waktu satu minggu sejak ada pengumuman jumlah kuota dan daftar peserta sertifikasi, pemberkasan harus selesai. Belum lagi kendala tidak adanya blangko isian atau instrumen penilaian portopolio. Ini yang membuat guru kalang kabut cari sana-cri sini sendiri, karena blangko tersebut ternyata tudak disediakan oeh dinas pendiidkan.

Inikah potret dunia pendidikan di Indopnesia, atau jangan-jangan hanya di kecamatan ku saja. Aku tidak peduli.



Ditulis pada 6 Mei 2008, oleh Untung Sutikno,S.Pd,
Guru SDN Rungkang 02 Losari Brebes.
 

Hati Potensi Berharga yang Harus Dijaga

 

Secara umum manusia memiliki 3 potensi penting. Potensi pertama adalah potensi fisik, sehingga jika kita mampu mengelola fisik dengan baik, insya Allah kita akan menjadi manusia yang kuat dan produktif. Bahkan Islam sangat menganjurkan agar kita memiliki fisik yang sehat. Almu'minuni qowiyyu, mu'min yang kuat lebih baik dan lebih disukai oleh Allah daripada mu'min yang lemah.

Dalam catatan sejarah, sampai usia 6 tahun Nabi Muhammad Saw memiliki tubuh yang benar-benar atletis. Beliau memulai peperangan pada usia 53 tahun. Dan tentu saja, perang zaman dulu tidak perang seperti zaman sekarang. Ketika itu Rasulullah Saw memakai baju besi hingga dua lapis dan mengarungi padang pasir sejauh ratusan kilometer. Itu artinya fisik beliau sangat prima.

Akan tetapi, ternyata tidak selamanya orang yang berfisik baik itu mulia sebagaiaman kemuliaan Rasulullah. Bahkan tidak jarang manusia yang berbadan bagus malah menjadi hina akibat keindahan fisiknya. Wanita bertubuh bagus tidak identik dengan wanita yang mulia, malah tidak sedikit wanita berbadan bagus menjadi turun derajatnya karena dia gemar memamerkan tubuhnya. Di sisi lain ada juga orang yang gara-gara badannya bagus menjadi stress karena takut jadi tidak bagus. Setiap hari waktunya habis untuk memikirkan badannya. Ikut senam, diet dan membeli bermacam-macam obat supaya tubuhnya tetap bagus. Secara tidak langsung orang seperti ini justru tersiksa dengan keindahan tubuhnya.

Sekali lagi, kita memang harus meningkatkan potensi fisik, namun potensi ini tidak identik dengan kemuliaan seseorang, jika tidak mampu menjaganya dengan hati-hati.

Potensi yang kedua adalah akal. Kita dikaruniai akal oleh Allah dan akal inilah yang membedakan kita dengan makhluk Allah lainnya. Dengan akal kita dapat memikirkan ayat-ayat Allah di alam ini sehingga kita dapat mengelola dan mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan.

Kendati demikian, potensi akal juga bukanlah potensi yang dapat menentukan mulia atau tidaknya seorang manusia. Di Indonesia ini begitu banyak orang yang pintar, tapi mengapa Indonesia masuh juga terpuruk? Setiap tahun puluhan ribu sarjana dikeluarkan oleh kampus-kampus yang ternama. Tapi mengapa korupsi masih juga merajalela? Rasanya kecil kemungkinan kalau korupsi itu dilakukan oleh orang-orang yang bodoh. Bagaiamana tidak? Uang negara, uang rakyat yang dikuras jumlahnya bukan hanya dalam bilangan jutaan atau miliaran, tapi juga triliunan rupiah. Kalau orang bodoh rasanya dia tidak akan kuat berpikir jauh-jauh seperti itu. Artinya pintar tidak identik dengan kemuliaan. Jika tidak hati-hati, mempunyai anak pintar juga tidak selalu identik dengan kebahagiaan. Ada yang anaknya pintar sementara orang tuanya hanya lulusan SD atau SMP, malah jadi menghina orang tuanya.

Demikianlah memang. Badan yang kuat tidak selalu menggambarkan kemuliaan, akal pikiran yang pintar juga tidak selalu membuat oang menjadi mulia. Jadi apa sih yang bisa membuat orang mulia?

Inilah potensi ketiga yang ada pada diri manusia yang tidak setiap orang mampu menjaga serta mengembangkannya. Dialah yang dinamakan hati. Hati inilah potensi yang bisa melengkapi otak cerdas dan badan kuat menjadi mulia. Dengan hati yang hidup inilah orang yang lumpuh pun bisa menjadi mulia, orang yang tidak begitu cerdas pun dapat menjadi mulia. Ada sebuah syair yang mungkin bisa menggambarkan betapa hati bisa sangat berpengaruh pada kehidupan seseorang.

"Bila hati kian bersih, pikiran pun selalu jernih, semangat hidup kan gigih, prestasi mudah diraih; Tapi bila hati busuk, pikiran jahat merasuk, akhlaqpun kan terpuruk, dia jadi makhluk terkutuk. Bila hati kian lapang, hidup susah tetap tenang, walau kesulitan menghadang, dihadapi dengan tenang; Tapi bila hati sempit, segalanya jadi rumit, seakan hidup terhimpit, lahir batin terasa sakit".

Masya Allah, andaikan hati kian bersih tentu akan nikmat sekali menjalani hidup ini. Kalau hati kita ini bersih dan sehat, maka pikiran pun bisa menjadi cerdas. Kenapa? Karena tidak ada waktu untuk berpikir licik, dengki atau keinginan untuk menjatuhkan orang lain. Sebab, kalau tidak hati-hatibenar maka hidup kita itu sangat melelahkan. Sekali saja kita tidak suka kepada seseorang, maka lambat laun kebencian itu akan memakan waktu, produktivitas dan memakan kebahagiaan kita, kita akan lelah memikirkan orang yang kita benci.

Karenanya bila hati kita bersih, maka pikiran bisa menjadi jernih. Tidak ada waktu buat iri, semua input kan masuk dengan mudah, karena tidak ada ruang untuk meremehkan siapa pun. Akibatnya kita akan memiliki akses data yang sangat tinggi, akses informasi yang benar-benar melimpah, akses ilmu yang benar-benar meluas, ujungnya akan mampu mengambil ide-ide yang cemerlang dan gagasan-gagasan yang jitu.

Berbeda dengan orang yang sombong, dia akan merasa bahwa dirinyalah yang paling tahu semua hal. Akibatnya, dia tidak pernah mau mendengar masukan dari orang lain. Padahal setiap orang tentu memiliki kelemahan. Dan untuk memperbaiki kelemahan itulah kita membutuhkan koreksi dan masukan dari orang lain.

Dengan kebersihan hati, insya Allah, otak akan lebih cerdas, ide lebih brilian, gagasan lebih cemerlang. Orang yang bersih hati itu punya kemampuan berpikir lebih cepat dari orang lain. Namun orang yang kotor hatinya, cuma akan berjalan di tempat. Dia kan sibuk memikirkan kekurangan orang lain, yang ada dalam pikirannya hanyalah kejelekan orang. Hatinya akan menjadi sempit.

Coba perhatikan jika ada anjing, kerbau, atau ada ular, di lapangan yang sangat luas, tentunya relatif tidak akan menjadi masalah. Apa lagi jika lapangannya teramat sangat luas, sebab ruang untuk bergerak jauh lebih leluasa. Tapi apa bila kita sedang da di kamar mandi, lalu muncul seekor  tikus saja, pasti akan menjadi masalah. Kita tidak akan nyaman, jijik, atau malah ketakutan. Artinya bagi orang-orang yang berhati sempit, perkara kecil saja bisa menjadi masalah besar, apalagi perkara yang benar-benar besar.

Jika hati bersih maka wajah pun akan memancarkan kecerahan dan penuh keramahan. Bahkan Nabi Muhammad Saw juga demikian. Beliau tidak pernah berjumpa dengan oang lain kecuali dalam keadaan tersenyum cerah. Senyum yang penuh keikhlasan memang sangat bernilai besar, karena selain menjadi shadaqah juga akan menyehatkan tubuh. Bahkan menurut para ahli, senyum itu hanya menggunakan 17 otot, sedangkan cemberut 32 otot, makanya orang yang sering cemberut akan mengalami kelelahan otot.

Dalam berbicara pun kita harus sangat berhati-hati, sebab tak jarang melalui tutur kata, akan terlihat derajat seseorang. Sebab mulut ini ibarat teko yang mengeluarkan isinya. Jika di dalamnya berisi kopi tentu yang keluar juga kopi, tapi jika isinya air yang bening pasti keluar air yang bening. Orang yang berkualitas itu, jika berbicara ada struktur dan cirinya. Kalau dia berbicara yang keluar adalah ide atau gagasan, hikmah, solusi, ilmu dan zikir, sehingga pembicaraannya senantiasa bermanfaat. Kalau bunyi itu efektif. Semakin banyak omongan sia-sia, maka semakin turun kualitas orang itu, padahal ciri-ciri kualitas keislaman orang itu dilihat bagaimana kesanggupan menahan diri dari sesuatu yang sia-sia. Kalau kita selalu berusaha mengendalikan hati, detak jantung normal, wajah cerah, lisan enak, dan badan sehat. Lebih dari itu bergaul dengan siapa pun akan menyenangkan.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk mengenal potensi yang termahal dari hidup kita, yaitu hati kita sendiri. Hidupkan hati dengan memperbanyak ilmu, memperbanyak ibadah, dan zikir. Ladang untuk berkarya teramat luas, hiduplah dengan menjaga kebersihan hati, insya Allah hidup ini menjadi lebih indah dan penuh makna.
 
Hati adalah amanah yang harus dijaga dengan penuh kesungguhan. Kita tidak bisa mengatur dan menata hati, kecuali dengan memohon pertolongan Allah agar Dia selalu menjaga hati kita. Hati adalah pangkal kehidupan. Jika Allah memberi hati kita yang bening, kita akan banyak mendapat keuntungan dan bisa menjadi apa saja sesuai dengan keinginan. Bisnis bisa menjadi lancar dan sukses, menjadi pemimpin yang dicintai, suami yang dihormati, ayah yang disegani, menjadi apa pun bisa terwujud jika akhlak kita mulia di sisi Allah. Dan kuncinya adalah Qalbun Salim, yaitu hati yang selamat, selamat dari segala kebusukan. Sebab kesuksesan dan kemuliaan hanyalah milik orang-orang yang berhati bersih. Semoga kita termasuk di dalamnya. Amin.Wallahu a'lam bishowab (pikiran-rakyat)[mq]***

Rabu, Mei 13, 2009

KAMBING HITAM

Ketika ada ketidakberesan dalam suatu urusan
Mereka sering melempar tanggungjawab
Mereka mencari-cari siapa penyebab ketidakberesan ini
Kambing hitam?
Yach,... Kambing hitam?
Itu yang mereka cari tuk menutupi kebobrokan dirinya.

Sekarang, saatnya kita cuci piring selesai kerja
Bukan cuci tangan, wahai saudaraku.
Jangan saling melempar kesalahan.
Jangan saling menghujat.
Jangan saling mengolok-olok rekan sejawat.
Ini tanggung jawab kita bersama.
Ayo bergandeng tangan, menyatukan langkah.
Brebes, 13 Mei 2008

BIRU

BIRU

Pelangi di belantara pedidikan.
Warna warninya memberi nuansa beda.
Dan itulah kenyataannya.
Semua bebas menfsirkan arti warna biru.
Biru laut menandakan kedalaman yang berarti kesunguhan hati.
Birunya langit menandakan ketinggitan yang berati keluhuran budi.
Birunya darah menandakan kebangsawanan.
Birunya film menandakan perselingkuhan dan perzinaan!!
Silakan anda memberi arti sendiri terhadap warna biru.
Silakan anda memberi anti tersendiri terhadap dunia pendidikan kita.

Biru manakah yang anda jumpai?
Biru manakah yang anda miliki?
Biru yang manakah yang anda saksikan?
Biru yang mana yang anda inginkan
Akulah pemilik birunya laut
Akulah pemilik birunya langit
Tapi jangan tanya apakah darahku biru.

Brebes, 13 Mei 2008,

Selasa, Mei 12, 2009

BUDAYA MENULIS DI KALANGAN GURU,

BUDAYA MENULIS DI KALANGAN GURU,
CERMIN SEBUAH KEPRIHATINAN
Oleh Untung Sutikno*)

Tanggal 8 September adalah Hari Aksara, hari yang mestinya identik dengan aktivitas membaca dan menulis. Berkaitan dengan peringatan hari aksara tersebut, saya ingin mencurahkan uneg-uneg yang membuat saya merasa prihatin dengan kompetensi guru saat ini. Kompetensi adalah kemampuan yang dimiliki seseorang yang kemudian menjadikannya unggul dalam bidang tertentu dan sangat siap untuk bersaing (Hernowo, 2005:279). Kompetensi yang saya soroti dalam tulisan ini adalah kompetensi menulis yang belum menjadi budaya di kalangan guru. Bahwa kompetensi menulis di kalangan guru sampai saat ini masih sangat memprihatinkan. Tabrani Yunis - Peminat masalah sosial dan Pendidikan,/Director Center for Community Development and Education (CCDE)-mengkritik para guru, bahwa budaya menulis di kalangan guru masih sangat rendah.
Diakui atau tidak, kritikan tersebut patut kita renungkan untuk menemukan akar permasalahannya. Kita tidak perlu membuat indikator terlalu banyak. Cobalah amati rekan-rekan guru di sekeliling kita. Berapa banyak di antara mereka yang membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sendiri sebagai tugas utama guru. Cobalah amati buku-buku di perpustakaan atau di toko-toko buku. Hitunglah, berapa banyak buku yang ditulis oleh para guru. Anda membaca surat kabar ? Hitunglah berapa banyak artikel yang ditulis oleh para guru. Pasti jarang sekali, bukan?
Benarkah guru tidak mampu menulis atau tidak terbiasa menulis? Jawabannya pasti bermacam ragam. Namun dalam kenyataannya, memang sangat sedikit guru yang menulis. Jangankan untuk menulis di media massa, jurnal atau yang lainnya, untuk membuat karya tulis yang diajukan dalam pengurusan kenaikan pangkat saja, banyak yang tidak bisa. Ironisnya lagi, untuk membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran saja banyak yang angkat tangan. Kondisi seperti ini tentu merupakan sesuatu yang memprihatinkan bagi kita. Padahal, guru harus membuat karya tulis - salah satu unsur pengembangan profesi- kalau mau cepat naik pangkat. Menurut kabar yang saya terima sewaktu mengikuti Workshop Guru Pemandu KKG SD di LPMP Jawa Tengah pada tanggal 13-16 Agustus 2008 akan ada peraturan baru tentang kenaikan pangkat melalui angka kredit. Guru dari golongan III/b diwajibkan membuat karya pengembangan profesi minimal 2 untuk bisa naik pangkat ke golongan III/c. Dari golongan III/c ke III/d minimal 4 angka kredit pengembangan profesi. Golongan III/d ke IV/a = 6, Golongan IV/a ke IV/b = 8, IV/b ke IV/c = 10, IV/c ke IV/d = 12, dan IVd ke IV/e =14. Jika peraturan tersebut telah benar-benar diberlakukan, maka sudah saatnya bagi guru golongan III untuk memulai melakukan pengembangan profesi, yang salah satunya dapat dilakukan dengan membuat karya tulis ilmiah. Menulis karya tulis sendiri, adalah sebuah upaya pengembangan profesi dan pengembangan diri guru dalam mengekspresikan diri. Namun sekali lagi, budaya menulis di kalangan guru itu sangat rendah. Idealnya, seorang guru harus mau dan pintar menulis. Mengapa demikian?
Guru sebagai subjek pendidik dan praktisi pendidikan tentu memiliki potensi menulis yang sangat besar. Ya, guru sebenarnya memiliki segudang bahan berupa pengalaman pribadi tentang sistem dan model pembelajaran yang dijalankan. Guru bisa menulis tentang indahnya menjadi guru, atau bisa juga menuliskan soal duka cita menjadi guru. Bisa pula memaparkan tentang sisi-sisi kehidupan guru dan sebagainya. Selama ini banyak orang menjadikan guru sebagai bahan perbincangan, sebagai bahan tulisan. Berbagai sorotan dan kritik dilemparkan orang dalam tulisan mengenai profesi guru yang semakin marginal ini. Berbagai keprihatinan terhadap profesi guru yang semakin langka ini, menjadi sejuta bahan untuk ditulis. Sayangnya, tulisan-tulisan mengenai guru, kebanyakan tidak ditulis oleh para guru. Padahal, kalau semua ini ditulis oleh guru, maka penulisan sang guru itu akan menjadi sebuah proses pembelajaran bagi semua orang.
Banyak kendala yang mengahadang aktivitas menulis di kalangan guru. Pertama, dari sisi guru, mereka banyak yang tidak mempunyai budaya membaca yang baik. Mereka umumnya miskin bahan bacaan atau referensi. Ada ungkapan yang mengatakan, penulis yang baik berawal dari pembaca yang baik. Coba saja amati di sekeliling anda. Berapa banyak guru yang mempunyai perpustakaan pribadi. Berapa banyak guru yang sering mengunjungi perpustakaan umum untuk mencari referensi. Berapa banyak guru yang berlangganan koran atau majalah? Berapa banyak guru yang bisa dan biasa berselancar di internet? Jawaban atas pertanyaan-tertanyaan tersebut dapat mencerminkan apakah guru mempunyai budaya membaca yang baik atau sebaliknya.
Kedua, motivasi yang rendah di kalangan guru untuk menulis. Tidak sedikit guru yang walapun telah banyak memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas, namun enggan untuk menulis. Dalam kaitan ini Agus Irkham- penulis artikel kondang yang ratusan tulisannya terserak di Koran Suara Merdeka, Wawasan, Kaltim Pos, Solo Post dan sebagainya,-menegaskan bahwa kegagalan seorang untuk menjadi penulis, minimal menulis, justru lebih banyak disebabkan oleh lemahnya motivasi. Termasuk habit atau kebiasaan hidup yang dapat mendukung keprigelan dan tradisi menulis yang kuat.
Kendala ketiga, guru yang miskin gagasan. Andaikan para guru di seluruh Indonesia dapat menulis buku untuk para muridnya. Andaikan para guru dapat memperkaya para muridnya dengan cerita-cerita yang mengasyikkan, ditulis oleh mereka di karya-karya tulis mereka. Andaikan artikel-artikel, opini dan celoteh guru banyak mengisi lembaran surat kabar dan majalah. Namun, mengapa tidak banyak guru yang mau menulis. Kurangnya gagasan dalam menulis membuat guru tidak tahu apa yang akan ditulis. Bahkan untuk memulai menulis kata pertama dalam karangannya sering membuatnya berkali-kali membuang kertas akibat salah memilih kata.
Keempat, kurangnya keberanian dalam menulis. Menjadi guru dituntut mempunyai loyalitas yang tinggi. Loyalityas tersebut harus ditujukan kepada Negara sesuai dengan aturan perundangan. Namun yang terjadi, loyalitas sering disalah artikan. Pandangan bahwa guru yang loyal adalah mereka yang taat pada atasannya atau pimpinan organisasi, menurut saya adalah pandangan yang keliru. Loyalitas seperti ini akan membuatnya kehilangan keberanian dalam mengungkapkan gagasan yang mungkin dianggapnya menyimpang dari kebijakan atasan. Pandangan bahwa guru yang loyal adalah guru yang menaati semua kemauan dan perintah atasannya telah berperan besar dalam membuat guru kurang berani menunjukkan otoritas pribadinya. Ia lebih terbawa pada arus pemikiran atasannya, ketimbang menuruti gagasannya sendiri, ia tidak produktif dan tidak kreatif. Ia terjebak dalam budaya ABS-asal bapak senang.
Nah, bagaimana menurut anda? Benarkah kompetensi guru dalam menulis sangat memprihatinkan? Saya tunggu tanggapan anda, para pembaca Tabloid Pendidikan Retorika Rakyat, karena media harus mendidik.☺

Sumber bacaan:
• Agus Irkham, PRIGEL MENULIS ARTIKEL, Lanarka Publiser, 2007
• Hernowo, LANGKAH MUDAH MEMBUAT BUKU YANG MENGGUGAH, Penerbit MLC, 2005.
• Sides Sudyarto DS, KIAT MENULIS FIKSI 50 Hari Jadi Penulis Besar, Pustaka Populer Obor, Jakarta, 2006
• http://pakguruonline.pendidikan.net
• http://groups.yahoo.com/group/pendidikan/message/3190

Biodata Penulis :

Nama : Untung Sutikno, S.Pd
TTL : Banyumas, 28 Juli 1969
Pekerjaan : Guru SD
Alamat : SDN Rungkang 02 Kecamatan Losari
Kabupaten Brebes
Email : aldiestu280769@gmail.com
Keterangan : Aktif sebagai Pemandu KKG
mata pelajaran IPS sejak tahun 2006.


TULISAN INI PERNAH DIPUBLIKASIKAN DI TABLOID RETORIKA RAKYAT PADA EDISI BULAN SEPTEMBER-OKTOBER 2008.

Senin, Mei 11, 2009

Guru gak Punya OTAK

Hari pertama nan indah di sebuah TK Mawar Merah yang diasuh oleh seorang Ibu guruberjiwa Komunis. Ibu Guru ini mulai memasuki kelas Nol besar. Dan ia mulai mengajar kepada anak2 TK tersebut tentang Faham Atheisme
Ia mulai mengambil sebuah penghapus papan tulis, dan mulai berkata pada anak2 TK di kelasnya itu:
” Anak-anak, penghapus papan tulis ini kelihatan gak???”, sambil tangannya mengacung-acungkan penghapus di depan kelas…
“KELIHATAAAAAN !!!”, kata anak2 TK serempak dan bersemangat.
“Yang terlihat menunjukan Keber-ada-an maka, Kalau penghapus ini kelihatan artinya penghapus ini ada nggaaak?”, tanyanya lagi kepada murid muridnya.
“ADAAAAAAAA! !”, kata anak2 itu penuh semangat. Kemudian ia mulai menaruh penghapus papan tulis di meja. Ia lalu mengambil sebuah kapur putih. Kemudian berkata kembali pada murid-muridnya:
“Anak-anak KAPUR ini kelihatan nggaak???”, sambil tangannya kembali mengacungkan kapur di depan kelas.
“KELIHATAAAAAN !!!”, kata anak2 TK serempak dan bersemangat. “Nah !! Kalau kapur ini terlihat berarti kapur ini ada…nggak? ” ,tanyanya lagi kepada murid-muridnya.
“ADAAAAAAAA! !”, kata anak2 TK itu semangat tanpa tedeng aling2.
Lalu sang guru mulai memasukan doktrin2 komunismenya kepada anak-anak TK tersebut.
“ANAK-ANAK ! TUHAN ITU KELIHATAN… ..NGGAK?? ??” Tanyanya lebihsemangat kepada anak muridnya.
“GAAAAAK!!”, teriak murid2 dengan polosnya.
“BERARTI TUHAN ITU. ADA GAAAAAAK???? “tanya Ibu Guru lagi bersemangat.
“NGGAK ADAAAAAAAA!! “, kata anak2 TK itu tanpa mikir panjang.
Dipojok belakang kelas tiba2 berdiri Sinchan (murid paling badung). Lalu ia berjalan dengan gagah ke depan kelas. Dengan lantang dia berkata ala sinchan :“KAWAN-KAWAN OTAK IBU KELIATAN.. NGGAAK???”tanyanya pada teman-temannya sekelas