SELAMAT DATANG

GURU SEJATI adalah tempatku belajar dari apa yang aku baca, aku lihat, aku dengar dan aku rasakan, dan berbagi dengan sesama insan yang belajar. GURU SEJATI bukanlah aku atau diriku. GURU SEJATI adalah semangatku dalam mengapai ilmu dan ridho-Nya.adalah semangatku dalam mengapai ilmu dan ridho-Nya.GURU SEJATI adalah proses belajar dan mencari jati diri.

Minggu, November 28, 2010

Ayo berinovasi membuat media pembelajaran menggunakan eXeLearning

eXeLearning XHTML editor (eXe) merupakan aplikasi berbasis web yang dirancang untuk mengembangkan dan mempublikasikan bahan ajar berbasis web, tanpa perlu penguasaan HTML, XML ataupun aplikasi publikasi web yang complicated (rumit).
eXeLearning telah dirancang untuk membantu para pemakai dengan fleksibilitas untuk mengembangkan konten pelajaran atau sumber pembelajaran dengan cara yang terbaik yang sesuai dengan proses pengembangan. Beberapa pemakai sebagai contoh, lebih memilih membuat outline dari struktur content mereka terlebih dahulu sebelum menguraikan dalam detil content.

Minggu, November 21, 2010

Seleksi CPNSD Provinsi Jawa Tengah tahun 2010


 

STATISTIK PENDAFTAR

Seleksi CPNSD Provinsi Jawa Tengah yang di update pada hari Minggu tanggal 21 Nopember 2010, pukul 22.44 malam.

 
 

NO

KODE INSTANSI

INSTANSI

Kelompok Formasi

Jumlah

Guru

Kesehatan

Teknis

1

2

3

4

5

6

7

1. 

 6476

 Kota Surakarta

799 

446 

1833 

3078 

2. 

 6475

 Kota Magelang

640 

282 

2900 

3822 

3. 

 6474

 Kota Tegal

1911 

521 

3517 

5949 

4. 

 6473

 Kota Pekalongan

459 

658 

1146 

2263 

5. 

 6429

 Kabupaten Wonogiri

2238 

1775 

2428 

6441 

6. 

 6427

 Kabupaten Sukoharjo

3084 

1393 

3757 

8234 

7. 

 6426

 Kabupaten Sragen

2979 

952 

2165 

6096 

8. 

 6425

 Kabupaten Boyolali

1544 

1409 

2777 

5730 

9. 

 6423

 Kabupaten Kebumen

2121 

977 

1897 

4995 

10. 

 6422

 Kabupaten Purworejo

765 

904 

1764 

3433 

11. 

 6420

 Kabupaten Temanggung

1860 

850 

1135 

3845 

12. 

 6419

 Kabupaten Magelang

769 

994 

3718 

5481 

13. 

 6418

 Kabupaten Banjarnegara

2585 

1255 

4481 

8321 

14. 

 6416

 Kabupaten Cilacap

3526 

1587 

3871 

8984 

15. 

 6415

 Kabupaten Banyumas

238 

1091 

1208 

2537 

16. 

 6414

 Kabupaten Blora

2667 

1111 

1920 

5698 

17. 

 6412

 Kabupaten Jepara

4650 

1206 

3501 

9357 

18. 

 6410

 Kabupaten Kudus

1924 

1507 

2827 

6258 

19. 

 6409

 Kabupaten Pati

4034 

1279 

2380 

7693 

20. 

 6408

 Kabupaten Brebes

6611 

1277 

3254 

11142 

21. 

 6407

 Kabupaten Tegal

2103 

1188 

2667 

5958 

22. 

 6406

 Kabupaten Batang

351 

451 

1305 

2107 

23. 

 6404

 Kabupaten Grobogan

1437 

1065 

1385 

3887 

24. 

 6401

 Kabupaten Semarang

1278 

913 

3191 

5382 

25. 

 6400

 Provinsi Jawa Tengah

300 

1877 

11749 

13926 

  

  

JUMLAH

50873

26968

72776

150617

 
 

Dari tabel tersebut terlihat jumlah pendaftar terbanyak adalah untuk instansi provinsi Jawa Tengah yakni 13.926 pendaftar, diikuti kabupaten Brebes pada urutan kedua yaitu 11.142 pendaftar. Sedangkan pendaftar paling sedikit untuk instansi Kabupaten Batang yang hanya ada 2.107 pendaftar. .

Sumber : http://cpns.jatengprov.go.id

STRATEGI PEMBELAJARAN ESTAFET JAKARTA

ESTAFET JAwab KARtu perTAnyaan

Creative By: UNTUNG SUTIKNO, S.Pd.

Guru SDN Rungkang 02 Kecamatan Losari Kabupaten Brebes

2008


 

Pengantar

Belajar merupakan upaya membangun makna/pengertian/pemahaman terhadap pengalaman dan informasi yang dilakukan oleh si pembelajar, yang disaring melalui persepsi, pikiran dan perasaan. Sedangkan mengajar merupakan upaya menciptakan suasana yang mengembangkan inisiatif dan tanggung jawab belajar si pembelajar ke arah belajar seumur hidup.

Beberapa pernyataan tentang proses belajar mengajar yang dijalankan guru dewasa ini :

" … pesan yang tertangkap oleh pembelajar dalam pengalaman belajar-mengajar sangat tergantung pada bentuk kegiatan belajar yang dihayatinya" (Cf. Brophy dan Alleman, 1991; Gagne, 1997; Gagne dan Glaser, 1987, dalam Raka Joni, 1993).

"Pembaharuan dalam bidang pendidikan harus dimulai dari 'bagaimana anak belajar' dan 'bagaimana cara guru mengajar', bukan dari ketentuan-ketentuan hasil" (Brooks, 1999, hal.3 – 4)

" Di Indonesia, kemampuan cara mengajar di depan kelas inilah yang masih kurang dimiliki guru-guru. Padahal materi pelajaran dalam kurikulum yang dipelajari itu di mana-mana sama (J. Drost. Kompas: 4 Juni 2002)


 

Strategi pembelajaran estafet jakarta (jawab kartu pertanyaan) menggunakan pendekatan Pakem ( Pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan). Strategi ini dapat diterapkan oleh guru baik di tingkat sekolah dasar maupun di tingkat menengah. Strategi estafet jakarta saya ciptakan untuk memberi kontribusi terhadap upaya melakukan pembaharuan proses belajar mengajar sebagaimana pernyataan-pernyataan di atas.


 

LANGKAH-LANGKAH ESTAFET JAKARTA


 

KEGIATAN AWAL

  1. Sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, guru menyiapkan kartu bernomor sejumlah siswa untuk pengelompokkan siswa, misal (36 anak)
  2. Guru menyajikan materi atau bacaan.
  3. Setiap siswa diberi kartu/ kertas kosong.
  4. Setiap siswa ditugasi menuliskan sebuah pertanyaan pada kartu/ kertas kosong. Siswa diwajibkan mengerti jawaban / kunci jawaban dari pertanyaan yang dibuatnya.
  5. Setiap siswa diberi sebuah kartu bernomor yang telah disiapkan (seperti di atas).
  6. Selanjutnya seluruh siswa menuju ke halaman sekolah dan berkumpul membentuk kelompok sesuai kartu kelompok yang diterimanya.


 

BABAK PERTAMA

Berdasarkan kelompok abjad (kelompok A, B. C. D. E dan F). Kegiatan dilakukan di luar kelas secara serentak semua kelompok.

  1. Siswa berkelompok sesuai abjad pada kartu yang ia terima.
  2. Setiap siswa secara estafet, diawali dari siswa yang bernomor kartu 1 membacakan pertanyaan yang dibuatnya, siswa lain dalam kelompok menjawab secara estafet diawali dari nomor kartu 2, 3, 4, 5 dan 6.
  3. Setelah semua menjawab, siswa penanya menyampaikan jawaban yang benar.
  4. Dilanjutkan siswa dengan nomor kartu 2 bertanya, siswa lainnya dalam satu kelompok menjawab secara estafet diawali dari nomor 3, 4, 5, 6, dan 1.
  5. Selanjutnya siswa dengan nomor kartu 3 bertanya, siswa lainnya dalam satu kelompok menjawab secara estafet diawali dari nomor 4, 5, 6, 1, 2 dan 3.
  6. Setelah semua menjawab, siswa penanya menyampaikan jawaban yang benar
    1. Setelah semua menjawab, siswa penanya menyampaikan jawaban yang benar. Demikian seterusnya sampai semua siswa menjadi penanya.


 

BABAK KEDUA


 

Berdasarkan Kelompok nomor kartu (kelompok 1, 2, 3, 4, 5 dan 6). Kegiatan ini dilakukan utnuk pemerataan jangkauan siswa terhadap kegiatan menJAwab KARtu perTAnyaan yang dibuat oleh siswa dari kelompok lain.

  1. Siswa berkelompok sesuai nomor pada kartu yang ia terima.
  2. Setiap siswa secara estafet diawali dari siswa huruf A membacakan pertanyaan yang dibuatnya, siswa B, C, D, E dan F dalam kelompok menjawab secara estafet/ berurutan. Setelah semua menjawab, siswa penanya menyampaikan jawaban yang benar.
  3. Dilanjutkan siswa huruf B bertanya, siswa C, D, E, F dan A menjawab secara estafet. Setelah semua menjawab, siswa penanya menyampaikan jawaban yang benar.
  4. Dilanjutkan siswa huruf C bertanya, siswa D, E, F, A dan B menjawab secara estafet. Setelah semua menjawab, siswa penanya menyampaikan jawaban yang benar. Demikian seterusnya sampai semua siswa menjadi penanya.


KEGIATAN AKHIR :

Di akhir kegiatan siswa diminta menuliskan semua pertanyaan dan jawaban yang diingatnya sebanyak mungkin secara berpasang-pasangan.

Salah seorang siswa menjadi penanya, siswa lainnya bergiliran menjawab. Selanjutnya guru mengevaluasi kegiatan siswa dengan memberi beberapa pertanyaan sesuai dengan topik pembahasannya.


 

Keunggulan strategi estafet jakarta:

  1. Strategi ini sangat efektif untuk melatih keberanian siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapatnya.
  2. Melatih kerjasama siswa dalam kelompok
  3. Melatih sportifitas siswa
  4. Siswa merasa senang dalam belajar. Lihat pernyataan siswa tentang etafet jakarta

Kelemahan strategi estafet jakarta:

  1. Pertanyaaan yang dibuat siswa sering homogen/ sama sehingga cakupan materi yang dikuasai siswa kurang berkembang.
  2. Siswa yang kurang mampu dalam membuat pertanyaan akan membingungkan siswa lainnya karena pertanyaan yang dibuatnya tidak jelas/ tidak terfokus pada permasalahan.
  3. Karena siswa diwajibkan memamahami jawaban dari pertanyaannya sendiri , maka siswa yang belum mendapat giliran bertanya lebih sering menghapalkan jawaban atas pertanyaan sendiri dari pada mendengarkan pertanyaan teman.


     


     

Catatan:

Strategi ini sudah beberapa kali diujicobakan pada saat pembelajaran, tetapi belum dilakukan penelitian terhadap strategi ini.

Tulisan ini saya persembahkan untuk seluruh rekan Guru . Semoga bermanfaat bagi kemajuan pendidikan di Indonesia. Silakan dicoba.

Jumat, Oktober 15, 2010

KONSEP PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH


A. Pengantar

Kepala sekolah/madrasah adalah guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah/madrasah. Oleh karena itu, ia perlu melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah ia laksanakan. Kemudian, ia perlu pula memanfaatkan hasil refleksi tersebut untuk perbaikan dan pengembangan mata pelajaran. Dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah/madrasah dan pengelolaan sekolah/madrasah, ia dapat melakukan PTS sekaligus sebagai sarana pengembangan profesinya (Permendiknas No. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru),
PTS merupakan penelitian yang berawal dari permasalahan sekolah, diselesaikan melalui tindakan spesifik dari gagasan peneliti untuk mengatasi permasalahan sekolah. Dengan demikian, yang pertama harus ada dalam setiap penelitian termasuk PTS bukanlah diawali dengan membuat judul tetapi diawali dengan menemukan adanya masalah.
Masalah-masalah yang akan dirumuskan adalah masalah-masalah aktual dan sangat penting dan mendesak untuk segera dipecahkan. Jika masalahmasalah itu tidak segera diatasi, dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap sekolah. Oleh karena itu, diperlukan tindakan spesifik yang diyakini benar-benar dapat mengatasi masalah-masalah tersebut.
Saat ini, penelitian paling banyak dilakukan oleh guru, kepala sekolah/madrasah dan pengawas sekolah/madrasah adalah penelitian tindakan. Jika penelitian tindakan dilakukan guru disebut Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Jika penelitian tindakan dilakukan oleh kepala sekolah/madrasah dan pengawas sekolah/madrasah disebut PTS. PTK bertujuan memecahkan masalah-masalah pembelajaran di kelas, sedangkan PTS bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah yang terjadi di sekolah.

B. Definisi PTS
PTS adalah tindakan ilmiah yang dilakukan kepala sekolah/madrasah untuk memecahkan masalah di sekolah/madrasah (Mills, 2003; Stringer, 2004; Glickman etr al., 2007; Hopkins,2008). Ruang lingkup PTS mengacu pada delapan standar nasional pendidikan khususnya Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah yang meliputi: (1) Perencanaan program sekolah/madrasah, (2) pelaksanaan program sekolah/madrasah, (3) pengawasan/evaluasi sekolah, (4) kepemimpinan, dan (5) sistem informasi manajemen sekolah.

C. Manfaat PTS
Manfaat PTS bagi kepala sekolah/madrasah secara umum adalah untuk memecahkan masalah aktual secara ilmiah nyata yang terjadi di sekolah. Masalah tersebut menjadi tanggung jawab kepala sekolah/madrasah. Manfaat PTS secara khusus adalah untuk: (1) meningkatkan kemampuan dan sikap profesional sebagai Kepala SD/MI; (2) menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan SD/MI sehingga tercipta sikap proaktif di dalam melakukan perbaikan mutu sekolah secara ilmiah; (3) meningkatkan mutu proses dan hasil pengelolaan SD/MI; (4) membuat Kepala SD/MI menjadi peka dan tanggap terhadap masalah-masalah pengelolaan sekolah yang muncul di SD/MI untuk melakukan refleksi dan kritis terhadap yang ia lakukan;  (5) meningkatkan kinerja sekolah termasuk kinerja kepala sekolah, kinerja guru, dan hasil belajar siswa, (6) sebagai bahan PTS untuk membimbing guru dalam membuat PTK, dan (7) membuat karya ilmiah guna mendapatkan angka kredit point untuk kenaikan pangkat/jabatan dan atau serifikasi guru.

D. Ciri-ciri PTS
Ciri-ciri PTS yang paling utama adalah adalah sebagai berikut:
1.      Melakukan tindakan peningkatan,
2.      Kolaborasi peneliti dengan yang diteliti;
3.      Adanya masalah penting dan mendesak yang dihadapi kepala sd/mi untuk segera dipecahkan;
4.      Adanya siklus, minimal dua siklus. Setiap siklus ada empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi;
5.      Dilakukan di wilayah kerja peneliti;
6.      Bertujuan meningkatkan kinerja sekolah/madrasah;
7.      Dilaksanakan sesuai jam kerja peneliti;
8.      Dilaksanakan secara berkelanjutan;
9.      Sesuai dengan tugas pokok dan fungsi kepala sd/mi;
10.   Tidak mengganggu tugas pokok dan fungsi kepala sd/mi;
11.   Kehadiran peneliti tidak mengganggu kegiatan orang yang diteliti;
12.   Adanya niat untuk meningkatkan mutu profesional guru, dan kepala sekolah/madrasah, kinerja guru, kinerja kepala sekolah/madrasah,dan kinerja sekolah secara keseluruhan;
13.   Tertuju pada peningkatan mutu kinerja guru dan kepala sekolah/madrasah yang melaksanakan pts itu sendiri;
14.   Tindakan sekolah yang diberikan kepala sekolah/madrasah kepada guru harus dapat dilihat dalam unjuk kerja subjek tindakan secara nyata yang dapat diamati oleh peneliti;
15.   Tindakan dilakukan pada situasi alami (pada keadaan yang sebenarnya) dan ditujukan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan praktis dalam peningkatan kinerja guru dan/atau kepala sekolah/madrasah;
16.   Pemberian tindakan sekolah harus dilakukan sendiri oleh peneliti sendiri, tidak boleh minta bantuan orang lain;
17.   Bukan menjelaskan tentang materi, tetapi tentang cara, metode, prosedur, atau langkah-langkah;
18.   Tindakan sekolah yang diberikan pada subjek tindakan sekolah harus baru dan kreatif (tidak seperti biasanya);
19.   Tindakan sekolah harus bersifat dapat dilaksanakan (operasional) dan praktis (mudah) serta sesuai dengan kondisi kelas;
20.   Tindakan sekolah merupakan kesepakatan bersama antara peneliti dengan subjek tindakan, bukan paksaan;
21.   Ketika tindakan sekolah berlangsung, harus ada pengamatan secara sistematis terhadap proses dan hasil; dan
22.      Keberhasilan tindakan sekolah dibahas dalam kegiatan refleksi, dan hasilnya digunakan sebagai masukan bagi perencanaan siklus berikut

E. Langkah-langkah PTS

Perencanaan
Perencanaan adalah langkah awal yang dilakukan peneliti saat akan memulai tindakannya. Agar perencanaan mudah dipahami oleh objek yang melakukan tindakan, maka peneliti membuat panduan tindakan yang menggambarkan:
a)     apa yang harus dilakukan objek, yang melakukan tindakan kepala sekolah/madrasah /madrasah;
b)     kapan dan berapa lama dilakukan;
c)     di mana dilakukan;
d)     fasilitas yang diperlukan; dan
e)     jika tindakan sudah selesai, apa tindak lanjutnya.

Pelaksanaan (Tindakan)
Pelaksanaan adalah penerapan dari perencanaan. Hal-hal yang harus diperhatikan kepala sekolah/madrasah adalah:
a)     apakah ada kesesuaian antara pelaksanaan dengan perencanaan?.
b)     bagaimana kelancaran proses tindakan yang dilakukan objek yang melakukan tindakan?,
c)     bagaimanakah situasi proses tindakan?,
d)     apakah objek yang melakukan tindakan mampu melaksanakan tindakan dengan penuh semangat?, dan
e)     bagaimanakah hasil keseluruhan dari tindakan itu?
f)      PTS merupakan penelitian yang mengikutsertaan secara aktif peran guru dan siswa dalam berbagai tindakan
g)     Kegiatan refleksi (perenungan, pemikiran dan evaluasi) dilakukan berdasarkan pertimbangan rasional (menggunakan konsep teori) yang mantap dan valid guna melakukan perbaikkan tindakan dalam upaya memecahkan masalah yang terjadi.
h)     Tindakan perbaikan terhadap situasi dan kondisi pembelajaran dilakukan dengan segera dan dilakukan secara praktis (dapat dilakukan dalam praktik pembelajaran)

Pengamatan
Pengamatan adalah pencermatan terhadap pelaksanaan tindakan. Halhal yang diamati adalah unsur-unsur dari proses tindakan dalam pelaksanaan di atas. Antara pelaksanaan dengan pengamatan bukan urutan karena waktu terjadinya bersamaan. Pengamatan harus menggunakan format pengamatan. Akan lebih baik jika pengamatan dilengkapi video untuk merekam peristiwa ketika guru sedang mengajar misalnya, kemudian dibahas bersama ketika refleksi.
Siapakah yang dapat melakukan pengamatan? Pengamatan dilakukan dengan cara sebagai berikut.
a)     Pengamatan dapat dilakukan oleh orang lain, yaitu pengamat yang diminta oleh peneliti untuk mengamati proses pelaksanaan tindakan, bertugas mengamati apa saja yang dilakukan oleh objek yang diteliti.
b)     (b) Pengamatan dapat dilakukan oleh peneliti sendiri, yaitu apa yang sedang ia lakukan, sekaligus mengamati apa yang dilakukan oleh objek yang diteliti dan bagaimana proses berlangsung.

Alternatif a lebih baik daripada b karena hasil pengamatan lebih asli dan objektif. Kesulitannya adalah peneliti harus mencari teman yang cermat dan dapat mengamati pelaksanaan; kesepakatan menentukan waktu yang sama.
Tahapan pengamatan dan pencatatan semua aktivitas PTS dilakukan bersamaan dengan saat pelaksanaan. Pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang berjalan, jadi keduanya berlangsung dalam waktu yang sama. Salah satu atau lebih kegiatan dari pengelolaan sekolah/madrasah yang dilakukan Kepala SD/MI menurut Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Pada tahapan ini, si peneliti melakukan pengamatan dan mencatat semua hal-hal yang diperlukan dan terjadi selama pekasanaan tindakan berlangsung. Pengumpulan data ini dilakukan dengan menggunakan format observasi/penilaian yang telah disusun. Termasuk juga pengamatan secara cermat pelaksanaan skenario tindakan, dari waktu ke waktu dan dampaknya terhadap proses dan hasil belajar siswa.
Data yang dikumpulkan dapat berupa data pengelolaan sekolah/madrasah. Instrumen yang umum dipakai adalah lembar observasi, dan cacatan lapangan yang dpakai untuk memperoleh data secara objektif yang tidak dapat terekam melalui lembar observasi, misalnya aktivitas siswa selama pemberian tindakan berlangsung, reaksi mereka, atau pentunjuk-petunjuk lain yang dapat dipakai sebagai bahan dalam analisis dan untuk keperluan refleksi. Sebagai contoh pada satu usulan PTS akan dikumpulkan data sebagai berikut : (1) data jumlah guru, (2) data kualifikasi guru, (3) data daftar hadir guru, data kinerja guru, sebagainya. Lembar observasi guna memperoleh data kedisipinan guru dan lapangan.
Data yang dikumpulkan hendaknya dicek untuk mengetahui keabsahannya. Berbagai teknik dapat dilakukan untuk tujuan ini, seperti misalnya teknik triangulasi, membandingkan data yang diperoleh dengan data lain, atau kriteria tertentu yang telah baku, dan lain sebagainya. Data yang telahterkumpul memerlukan analisis untuk dapat mempermudah penggunaan maupun dalam penerikan kesimpulan. Untuk itu berbagai teknik analisis statitika dapat digunakan.

Refleksi
Tahapan ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan, berdasakan data yang telah terkumpul, dan kemudian melakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan yang berikutnya. Refleksi dalam PTS mencakup analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dari proses refleksi, maka dilakukan proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi kegiatan : perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang sehingga permasalahan dapat teratasi (Hopkins, 1993).
Refleksi adalah merenungkan hasil pengamatan. Kepala sekolah/madrasah /madrasah harus melibatkan objek yang melakukan tindakan. Mereka diminta untuk mengingat kembali peristiwa yang terjadi ketika PTS berlangsung, serta mengemukakan perasaannya senang atau tidak mengemukakan pendapat dan usul-usul untuk perbaikan siklus berikutnya.
Dalam penilaian laporan PTS. Uraian refleksi ini sangat diperhatikan oleh pembaca, penilai, atau penguji, dicermati bagaimana peneliti melakukannya, dan bagaimana tindak lanjut dari refleksi tersebut. Hal yang sangat diperhatikan pembaca, penilai, atau penguji adalah apakah hasil refleksi ini digunakan sebagai bahan untuk memperbaiki perencanaan pada siklus berikutnya atau tidak karena sangat penting untuk dijadikan masukan perbaikan perencanaan siklus berikutnya.
Kegiatan pada siklus kedua dapat berupa kegiatan yang sama dengan kegiatan sebelumnya bila ditujukan untuk mengulangi kesuksesan, atau untuk meyakinkan atau menguatkan hasil. Tapi umumnya kegiatan yang dilakukan pada siklus kedua mempunyai berbagai tambahan perbaikan dari tindakan terdahulu yang tentu saja ditujukan untuk memperbaiki berbagai hambatan atau kesulitan yang ditemukan dalam siklus pertama. Dengan menyusun rancangan untuk siklus kedua, maka kepala sekolah/madrasah /madrasah dapatmelanjutkan dengan tahap kegiatan-kegiatan seperti yang terjadi dalam siklus pertama.
Jika sudah selesai dengan siklus kedua dan kepala sekolah/madrasah /madrasah belum merasa puas, dapat melanjutkan dengan siklus ketiga, yang cara dan tahapannya sama dengan siklus terdahulu. Tidak ada ketentuan tentang berapa kali siklus harus dilakukan. Banyaknya siklus tergantung dari kepuasan peneliti sendiri, namun ada saran, sebaiknya tidak kurang dari dua siklus.
Tunjukkan siklus-siklus kegiatan penelitian dengan menguraikan indikator keberhasilan yang dicapai dalam setiap siklus sebelum pindah ke siklus lain. Jumlah siklus diusahakan lebih dari satu siklus, meskipun harus diingat juga jadwal kegiatan belajar di sekolah.

Sumber : BAHAN BELAJAR MANDIRI Kelompok Kerja Kepala Sekolah, DIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL ,2009