SELAMAT DATANG

GURU SEJATI adalah tempatku belajar dari apa yang aku baca, aku lihat, aku dengar dan aku rasakan, dan berbagi dengan sesama insan yang belajar. GURU SEJATI bukanlah aku atau diriku. GURU SEJATI adalah semangatku dalam mengapai ilmu dan ridho-Nya.adalah semangatku dalam mengapai ilmu dan ridho-Nya.GURU SEJATI adalah proses belajar dan mencari jati diri.

Sabtu, Desember 22, 2012

PENINGKATAN KOMPETENSI GURU DALAM PENGEMBANGAN SILABUS DAN RPP MELALUI PEMBINAAN PROFESIONAL DENGAN PENDEKATAN KOOPERATIF PADA SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2008/2009

Oleh : Salimudin
ABSTRAK
Penelitian tentang peningkatan kompetensi guru dalam pengembangan silabus dan RPP melalui pembinaan profesional dengan pendekatan kooperatif di SD daerah binaan V Cabang Dinas P dan K Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes pada semester I tahun pelajaran 2008/2009 adalah penelitian tindakan (action research) yang bersifat siklik. Permasalahan dalam penelitian tindakan sekolah ini adalah bagaimana pembinaan profesional dengan pendekaatan kooperaratif dapat meningkatkan kompetensi guru dalam mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) di SD di daerah Binaan V Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes?. Tujuan dari penelitian tindakan sekolah yang dilaksanakan oleh pengawas sekolah kepada guru yaitu untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan untuk mengetahui sejauh mana pembinaan profesional dengan pendekatan kooperatif dapat meningkatkan kompetensi guru. Kemampuan yang akan ditingkatkan adalah kemampuan guru dalam mengembangkan silabus dan RPP. Tindakan dilaksanakan dalam 2 siklus yang mengcu pada permasalahan dan tujuan penelitian. Subjek penelitian adalah guru kelas VI yang berada di daerah binaan (DABIN) V Cabang Dinas P dan K Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes pada semester gasal tahun pelajaran 2008/2009. Objek penelitian tindakan sekolah adalah silabus dan RPP. Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah (1) meningkatnya aktivitas peserta dalam pembinaan, (2) efektivitas pembinaan dengan pendekatan kooperatif, (3) meningkatnya kemampuan dan penguasaan guru/peserta dalam mengembangkankan silabus dan RPP yaitu nilai rata-rata yang diperoleh di atas 70. Hasil penelitiannya adalah (1) untuk siklus I, nilai rata-rata masih rendah yakni 65,31 dan meningkat pada siklus 2 nilai rata-rata yang diperoleh peserta adalah Kata Kunci : Pembinaan Profesional Dengan Pendekatan Kooperatif, Meningkatkan Kompetensi Guru

PENDAHULUAN Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu prioritas program pembangunan di Indonesia, karena isu mengenai mutu pendidikan sampai saat ini masih bergulir. Upaya meningkatkan mutu pendidikan menjadi priotitas utama, disamping pemerataan, relevansi, efesiensi, dan efektivitas. Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan kompetensi guru, antara lain melalui pelatihan, workshop, bimbingan teknik, dan uji sertifikasi. Namun demikian berbagai indikator peningkatan kompetensi guru belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Yuwono (2001) menyatakan bahwa usaha-usaha perbaikan pembelajaran sudah dilakukan namun belum menampakkan hasil yang memuaskan. Hal ini sejalan dengan pendapat Theofilus (2006) yang mengatakan bahwa guru selama ini lemah dalam menyusun silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang menjadi pedoman pada saat pembelajaran di kelas. Bahkan ada yang tidak menyusunnya sama sekali, padahal kualitas rencana pelaksanaan pembelajaran sangat menentukan hasil kegiatan belajar mengajar.
Oleh karena itu upaya peningkatan kompetensi terus dilakukan. Upaya ini diantaranya dengan mengadakan pembinaan profesional dengan memadukan berbagai pendekatan..
B. Rumusan Masalah dan Pemecahannya
1. Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan-permasalahan di atas, maka dapat ditarik suatu rumusan masalah sebagai berikut:
Bagaimana Pembinaan Profesional dengan Pendekaatan Kooperatif Dapat Meningkatkan Kompetensi Guru Dalam Mengembangkan Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Di SD Daerah Binaan V Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes?
2. Rencana Pemecahan Masalah
Penelitian ini adalah penelitian tindakan yang dilaksanakan di sekolah yang pada hakikatnya digunakan dalam rangka memecahkan masalah-masalah yang timbul dalam tugas dan fungsi pengawas . Rencana pemecahan masalah dilakukan melalui tindakan yang diperkirakan sebanyak 2 siklus.
Perencanaan tindakan digambarkan sebagai berikut:
C. Tujuan Penelitian
Dalam penelitian tindakan sekolah ini, peneliti mempunyai tujuan :
1. Untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mengembangkan silabus melalui pembinaan profesional dengan pendekatan kooperartif.
2. Untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mengembangkan RPP melalui pembinaan profesional dengan pendekatan kooperatif.
3. Untuk mengetahui sejauh mana pembinaan profesional dengan pendekatan kooperatif dapat meningkatkan kompetensi guru dalam mengembangkan silabus dan RPP.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan, yang hasilnya diharapkan bermanfaat untuk :
1. Guru
a. Guru memiliki kemampuan dalam menjabarkan standar isi menjadi silabus.
b. Guru lebih mampu dalam mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran.
c. Guru memiliki keterampilan dalam membuat perangkat pembelajaran.
2. Pengawas sekolah
a. Memiliki keterampilan dalam pembinaan profesionak kepada guru.
b. Memiliki inovasi dalam melaksanaan pembinaan profesional terhadap guru.
c. Sebagai masukan kepada pengawas sekolah dalam melaksanakan pembinaan profesional dengan pendekataan kooperatif
3. Dinas Pendidikan
Memberikan sumbangan pemikiran dalam upaya untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mengembangkan silabus dan RPP melalui pembinaan profesional dengan pendekatan kooperartif.
E. Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah:
1. Pembinaan profesional dengan pendekatan kooperatif dapat meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan silabus.
2. Pembinaan profesional dengan pendekatan kooperatif dapat meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran.
F. Kajian Teori
1. Pengembangan Silabus
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indiktor pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar ( Panduan Penyusunan KTSP, Depdiknas, 2006). Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi dan penilaian. Dalam mengembangkan silabus pada hakikatnya harus menganut prinsip-prinsip (a) ilmiah, (b) relevan, (c) sistematis, (d) konsisten, (e) memadai, (f) aktual dan kontekstual, (g) fleksibel, dan (h) menyeluruh.
Langkah- langkah yang disarankan dalam mengembangkan silabus menurut pedoman dari BSNP ( 2007) adalah sebagai berikut (a) mengisi kolom identifikasi, (b) menulis dan mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar, (c) mengidentifikasi materi pembelajaran, (d) mengembangkan kegiatan pembelajaran, (d) merumuskan indikator pencapaian kompetensi, (e) menentukan jenis penilaian yang sesuai dengan karakteristik setiap SK/KD , (f) menentukan alokasi waktu yang dibutuhka, dan (g) menentukan sumber belajar yang akan digunakan sebagai rujukan. Dengan demikian silabus disebut baik apabila dalam mengembangkan silabus penyusun menggunakan langkah-langkah yang telah ditentukan oleh badan standar nasional pendidikan .
2. Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Rencana pembelajaran merupakan hal yang sangat penting yang harus dilakukan oleh guru untuk menunjang pembentukan kompeten dasar yang diharapakan. Sumantri (1988) mengemukakan proses pembelajaran yang dimulai dengan mengembangkan rencana pembelajaran, ketika kompetensi dan metodologi telah diindentifikasi, akan membantu guru dalam mengorganiisasi materi standar serta mengantisipasi peserta didik dalam menghadapi masalah-masalah yyang akan timbul.
Menurut Reigeluth (1993) memaknai rencana pembelajaran adalah kisi-kisi dari penerapan teori belajar dan pembelajaran untuk memfasilitasi proses belajar seseorang. Kemudian Gentry (1994) berpendapat bahwa yang disebut rencana pembelajaran adalah suatu proses yang merumuskan dan menentukan tujuan pembelajaran, strategi, teknik, dan media agar tujuan umum tercapat. Berdasarkan pendapat dua pakar pendidikan penulis menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan rencana pembelajaran adalah suatu perencanaan jangka pendek untuk memperkirakan tentang apa yang akan dilakukan dengan jalan menkoordinasikan komponen pembelajaran yaitu kompetensi dasar materi, indikator dan penilaian yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar.
Menurut BSNP (2007) dalam pedoman penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran komponen minimal yang harus ada dalam mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran adalah sebagai berikut (a) kolom identitas mata pelajaran, (b) menuliskan standar kompetensi dari standar isi, (c) menuliskan kompetensi dasar, (d) menentukan indikator pencapaian kompetensi, (e) merumuskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, (f) merumuskan materi materi pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi dasar, (g) menentukan metode pembelajaran yang sesuai, (h) menyusun secara sitematik rencana kegiatan pembelajaran yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup, (i) menentukan sumber belajar, media pembelajaran dan sarana serta prasarana yang diperlukan, (j) menyusun prosedur penilaian yang sesuai dengan karakteristik mata pelajaran.
Prinsip penyusunan RPP adalah: (a) berorientasi pada silabus mata pelajaran, (b) perumusan indikator pencapaian kompetensi, pemilihan materi pembelajaran, penyusunan urutan penyajian materi, serta penilaian hasil pembelajaran dilakukan dengan mengacu pada SK dan KD yang ada dalam silabus, (c) memperhatikan perbedaan individual siswa, (d) rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) disusun dengan memperhatikan kemampuan belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, keragaman latar belakang budaya, norma dan tata nilai serta lingkungan sekolah, (e) rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) disusun dengan mempertimbangkan kemungkinan penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi dan sistematis dalam pembelajaran, (f) mendorong adanya pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan, (g) proses pembelajaran dirancang dengan berfokus pada siswa untuk mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, dan semangat belajar, serta budaya membaca, menulis, dam berhitung, (h) dalam penyusunan RPP harus dirancang adanya pemberian penguatan, umpan baik positif, pengayaan, dan remedial terhadap siswa untuk mengatasi hambatan belajar siswa, (i) rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar dalam satu keutuhan kegiatan, (j) rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) disusun dengan mengakomodasikan keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.
Menurut BSNP (2007) ada 9 langkah dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (a) menuliskan identitas yang meliputi nama mata pelajran, kelas dan semester, jumlah pertemuan, serta alokasi waktu , (b) menuliskan SK dan KD dari silabus mata pelajaran yang akan dicapai pada kegiatan pembelajaran tertentu, (c) menuliskan indikator pencapaian kompetensi yang telah dirumuskan dalam silabus, (d) merumuskan tujuan pembelajaran. (e) merumuskan materi pembelajaran. Pada waktu akan merumuskan materi pembelajaran sebaiknya kita memperhatikan pendapat Bruner yang mengemukakan behwa penyajian materi bisa dimulai dari yang temudah secara bertahap menuju ke arah materi yang sukar. Dengan kata lain, materi yang bersifat sederhana sebaiknya dijelaskan lebih dahulu, sehingga apabila diberi materi yang lebih rumit tidak terlalu kaget. Kemudian hal-hal yang kongret atau nyata diberikan terlebih dahulu karena mudah, kemudian disusul dengan materi yang abstrak secara bertahap. (f) menentukan metode pembelajaran. (g) kegiatan pembelajaran. (h) menentukan sumber belajar, (i) menentukan prosedur penilaian, dan menyusun instrumen penilaian sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi dasar.
Berdasarkan uraian di atas maka guru harus kreaktif dalam menyusun strategi pembelajaran yang memberikan peluang lebih besar bagi peserta didik untuk melakukan dan melaporkan. Sebab rencana pembelajaran sebagai bentuk kegiatan perencanaan erat hubungannya dengan bagaimana sesuatu dapat dikerjakan, oleh karena itu rencana pembelajarn yang baik adalah rencana pembelajaran yang dapat dilaksanakan secara optimal dalam pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik.
3. Pembinaan Profesional dengan Pendekatan Kooperatif
Hasil penelitian tentang pengaruh guru terhadap hasil belajar peserta didik di Indonesia sangat rendah sekitar 25 % sedangkan di negara Jepang mencapai 55%. Ini merupakan tantangan bagi pengawas sekolah dalam melaksanakan pembinaan profesional terhadap kepala sekolah dan guru. Pembinaan profesional adalah usaha memberi bantuan pada guru untuk memperluas pengetahuan, meningkatkan keterampilan mengajar dan menumbuhkan sikap profesional sehingga guru menjadi lebih ahli mengelola kegiatan belajar mengajar dalam membelajarkan anak didik (Depdiknas, 1985) Kegiatan ini di bawah koordinasi Cabang dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan dan pengawas sekolah sebagai pembina. Kegiatan ini diwadahi dalam bentuk kelompok kerja guru (KKG). KKG minimal bertemu satu kali untuk setiap minggu dengan tujuan menyusun strategi pembelajaran dan mengatasi masalah-masalah yang muncul di kelas.
Pembinaan profesional guru sebagai suatu sistem di dalamnya terdapat beberapa komponen yang satu sama lainnya punya peran dan jalinan yang erat,. Komponen-komponen yang terkait dalam pembinaan profesional adalah: (a) pengawas selaku pembina guru yang melakukan tugas fungsinya disertai dedikasi dan komitmen terhadap tugasnya. (b) perangkat gugus sekolah yaitu SD Inti, SD Imbas, dan KKG, (c) perencanaan program pembinaan melalui kegiatan pelatihan, diskusi, seminar, tutorial, issu/pokok-pokok masalah, kebutuhan-kebutuhan riil dan praktis dalam proses belajar-mengajar, jadwal dan pelaksanaan program
Pilihan terhadap pengembangan pembinaan profesional dengan pendekatan kooperatif berlandaskan kepada pemikiran bahwa mutu pendidikan yang berkualitas harus ditangani oleh para pengelola pendidikan yang berkualitas. Peserta didik yang berkualitas sebagai out put dari proses pembelajaran juga merupakan hasil dari guru-guru yang berkualitas pula. Untuk itu, peningkatkan mutu tenaga pendidik yang berkualitas perlu dilakukan pembinaan profesional oleh pengawas sekolah secara terprogram, terstruktur dan berkelanjutan. Peneliti dalam melaksanakan pembinaan profesional dengan menggunakan pendekatan kooperatif dengan asumsi bahwa belajar secara berkelompok akan mudah untuk memecahkan suatu masalah. Hal ini sejalan pendapat Slavin (1995) yang mengemukakan bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka dapat saling mendiskusikan konsep-konsep tersebut dengan temannya. Pembinaan profesional dengan pendekatan kooperatif peserta belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang saling membantu sama yang lain. Kegiatan pembinaan disusun dalam kelompok kecil yang terdiri atas 4 orang dengan kemampuan yang heterogen. Maksud dari kelompok yang heterogen adalah terdiri dari campuran kemampuan peserta, jenis kelamin, dan suku ( Thomson,1995)
Dalam pembinaan profesional yang dilakukan oleh peneliti pembentukan kelompok menggunakan pangkat dan golongan ruang tidak memandang latar belakang pendidikan. Hal ini dikandung maksud untuk melatih peserta menerima perbedaan pendapat dan bekerja dengan teman yang berbeda latar belakangnya. Pada pembinaan profesional dengan pendekatan kooperatif diajarkan keterampilan khusus agar dapat bekerja sama didalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar yang baik, memberikan penjelasan teman kelompoknya dengan baik.
Perlu ditekankan kepada peserta bahwa mereka belum boleh mengakhiri diskusinya sebelum mereka yakin bahwa seluruh anggota timnya menyelesaikan seluruh tugas. Peserta diminta menjelaskan hasil kerja yang telah diberikan oleh peneliti. Apabila seorang peserta memiliki pertanyaan, teman satu kelompok diminta untuk mmenjelaskan sebelum menanyakan kepada pembina dalam hal ini adalah peneliti selaku pengawas sekolah di daerah binaannya. Pada saat peserta sedang bekerja pada kelompok peneliti berkeliling diantara anggota kelompok, memberikan pujian dan mengamati bagaimana kelompok itu bekerja. Pada saatnya kepada peserta diberikan evaluasi dengan waktu yang cukup untuk menyelesaikan tes yang diberikan. Diusahakan peserta jangan bekerja sama dalam mengerjakan tes pada saat itu harus dapat menunjukkan apa yang mereka pelajari secara individu.
Terdapat 6 fase atau langkah-langkah utama dalam pembinaan profesional dengan pendekatan kooperatif. Pembinaan dimulai dengan menyampaiakan tujuan kegiatan dan memotivasi peserta untuk belajar. Fase ini diikuti peserta dengan penyajian informasi dalam bentuk paparan (teks). Selanjutnya peserta dikelompokkan ke dalam tim-tim diskusi. Tahap ini diikuti dengan bimbingan dari pengawas selaku pembina pada saat peserta bekerja sama menyelesaikan tugas mereka. Fase terakhir dari pembinaan profesional dengan pendekatan kooperatif yaitu penyajian hasil akhir kerja kelompok, dan mengetes apa yang mereka pelajari serta memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu.
Berdasarkan uraian di atas peneliti membuat simpulan bahwa pembinaan profesional yang dilaksanakan oleh pengawas kepada para guru akan meningkatkan kompetensi guru apabila dilakukan sesuai dengan langkah-langkah sebagai berikut yaitu dimulai dengan menyampaikan tujuan kegiatan dan memotivasi peserta untuk belajar kemudian diikuti peserta dengan penyajian informasi dalam bentuk paparan(teks). Selanjutnya peserta dikelompokkan ke dalam tim-tim diskusi. Tahap ini diikuti dengan bimbingan dari pengawas selaku pembina pada saat peserta bekerja sama menyelesaikan tugas mereka. Kegiatan terakhir dari pembinaan profesional yaitu penyajian hasil akhir kerja kelompok, dan mengetes apa yang mereka pelajari serta memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu
4. Hasil Penelitian Yang Relevan
Beberapa peneliti yang terdahulu yang relevan dengan penelitian ini dan dapat dijadikan kajian pustaka antara laian Sri Hastuti (2005) dan Theofilus Sir (2006). Penelitian Sri Hastuti (2005) berjudul Kontribusi Hasil Pelatihan Guru danSupervisi Kepala Sekolah Terhadap Profesionalisme Guru.
Hasil penelitian ini menunjukkan ada kontribusi yanng signifikan antara hasil pelatihan guru dan profesionalisme guru besarnya 60,7 % dan kontribusi yang signifikan antara supervisi kepala sekolah terhadap profesionalisme guru , besarnya kontrribusi 57,1 %. Kemudian ada kontribusi yang signifikan antara hasil pelatihan dan supervisi kepala sekolah secara bersama-sama terhadap profesionalisme guru, besarnya kontribusi 71,4 % .
Thefilus Sir ( 2006) dalam penelitiannya yang berjudul RPP dan Pembelajaran yang Efektif. Hasil dari penelitian ini bahwa pembelajaran akan tercapai apabila ditunjang beberapa komponen seperti guru, siswa, materi pembelajaran, sarpras, kurikulum dan unsur kepengawasan. Pada siklus kedua guru memperlihatkan kemampuan mengembngkan indikator, persentase meningkat dari 40% menjadi 60%. Secara keseluruhan dari aspek 1 sampai aspek 9 terjadi peningkatan dari 21,53 %, dari 49,23 % menjadi 70,60 %. Rencana pelaksanaan pembelajaran membuat pembelajaran di kelas dapat berjalan secara efektif dan efesien sehingga meningkatkan prestasi belajar siswa.
5. Kerangka Pikir
Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah dan manfaat,serta kajian teori penelitian yang berjudul “ Peningkatan Kompetensi Guru Dalam Penggembangan Silabus Melalui Pembinaan Profesionak dengan Pendekatan Kooperatif” tersebut dengan menggunakan kerangka pikir sebagai berikut :
Ada keterkaitan antara Pembinaan Profesional dengan Pendekaatan Kooperaratif dalam Peningkatkan Kompetensi Guru untuk Pengembangan Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ( RPP) Di Sekolah Dasar Daerah Binan V Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes.
METODE
A. Rancangan Penelitian Tindakan Sekolah
Penelitian ini adalah penelitian tindakan yang dilaksanakan di sekolah yang pada hakikatnya digunakan dalan rangka memecahkan masalah-masalah yang timbul dalam tugas dan fungsi pengawas sekolah. Pelaksanaan penelitian tindakan sekolah bersifat partisipatif karena melibatkan peneliti sebagai pelaksana penelitian.dan settingnya adalah kegiatan pembinaan profesional guru yang dilaksanakan dalam bentuk kegiatan kelompok guru (KKG) dengan materi pembinaan tentang pengembangkandan penyususnan silabus serta rencana pelaksanaan pembelajaran kelas (RPP) kelas VI.
B. Subjek dan Objek Penelitian Tindakan Sekolah
Subjek penelitian tindakan sekolah ini adalah 12 guru kelas VI yang berada di Daerah Binaan V Cabang Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes.
Objek penelitian tidakan sekolah ialah silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) kelas VI sekolah dasar.
C. Prosedur Penelitian Tindakan
1. Perencanan
a. Skenario Tindakan
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research) yang bersifat siklik. Sedangkan kemampuan yang ditingkatkan adalah kemampuan guru kelas VI dalam mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Tindakan diperkirakan sebanyak dua siklus, setiap siklus menggacu paa tujuan dan permasalahan penelitian. Tindakan pada siklus ke dua tergantung dari refleksi pelaksanaan siklus sebelumnya dan seterusnya hingga tercapai tujuan yang ingin diharapkan.
b. Perkiraan Jumlah Siklus
Untuk mencapai tujuan peninggkatan kompetensi guru dalam pengembangan silabus dan RPP melalui pendekatan kooperatif dilakukan tindakan yang diperkirakan dua siklus. Siklus 1 dilaksanakan dalam 2 pertemuan dengan alokasi waktu 3x 60 menit, pertemuan pertama alokasi waktu 1 x 60 menit kemudian pada pertemuan kedua dengan alokasi waktu 2 x 60 menit. Pada siklus 2 dilaksanakan dengan mnggunakan satu pertemuan dengan alokasi waktu 2 x 60 menit.
D. Instrumen Penelitian
Instrumen untuk mengukur keberhasilan tindakan berupa:
1. Instrumen input berupa lembar intrumen pretes penugasan kemampuan awal yang dimiliki oleh guru dalam mengembangkan silabus dan RPP
2. Instrumen proses, berupa:
a. Instrumen pengamatan pengawas, yaitu berupa lembar observasi pada saat pelaksanaan pembinaan profesional dengan pendekatan kooperatif yang dilakukan oleh teman pengawas.
b. Instrumen pengamatan terhadap kelas yang berupa lembar observasi tentang keaktifan peserta dan kelompok pada waktu mengikuti kegiatan pembinaan profesional dengan pendekatan kooperatif.
3. Instrumen Output
Instrumen ini berbentuk tes penguasaan kemampuan guru dalam mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran sebagai hasil dari pembinaan profesional.
E. Analisis Data
1. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah statistik deskriptif. Menurut Sugiyono (2006) statistik deskriptif digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa membuat kesimpulan yang belaku secara umum atau generalisasi. Sehingga dalam penelitian tindakan dengan menggunakan statistik deskriptif tidak ada uji signifikansi, tidak ada taraf kesalahan, karena peneliti tidak bermaksud membuat generalisasi. Rumus yang digunakan dalam menganalisis data hasil post test adalah: Rumus yang digunakan dalam menganalisis data hasil post test adalah:
1. Rumus yang digunakan untuk menganalisis data hasil pos tes
2. Rumus yang digunakan untuk menganalisis data hasil observasi adalah:
F. Pelaksanaan Tindakan
1. Siklus I
a. Perencanaan
1. Mengindentifikasikan dan merumuskan permasalahan
2. Merancang pembinaan profesional dengan pendekataan kooperatif dengan membentuk kelompok yang beranggotakan 4 orang, kriteria pembentukan kelompok berdasarkan pada pangkat dan golongan ruang.
3. Menyiapkan paparan tentang silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran
4. Menentukan teman sejawat untuk membantu dalam melaksanakan pengamatan.
5. Menyusun soal pre test dan post tes
6. Menyiapakan lembar observasi.
b. Pelaksanaan
1. Peneliti melakukan apersepsi pada materi tentang pengembangan silabus dan rencana pelakasaan pembelajaran sebagai langkah awal mengetahui kemampuan guru dalam mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran.
2. Peneliti menyampaikan tujuan yang akan dicapai dalam pembinaan profesional melalui pendekatan kooperatif .
3. Mempresentasikan materi tentang silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran
4. Peserta bekerja secara kelompok dalam mengembangkan silabus dan rencana pelaksaan pembelajaran.
5. Peserta berdiskusi untuk menyusun silabus dan rencana pelaksanaan pembelajan dengan bimbingan dari peneliti secara kelompok.
6. Peserta pada tiap kelompok menyajikan hasil kerja kelompok di depan peserta.
7. Membagikan lembar evaluasi
8. Memberikan penguatan kepada peserta .
9. Menutup kegiatan.
c. Observasi
1. Observasi oleh teman sejawat pada saat pemberian pembinaan profesional kepada guru dengan tujuan untuk mengetahui efektivitas dalam melaksanaan pembinaan profesional.
2. Peneliti mengamati jalanya proses pembelajaran dalam kelompok dan menilai guru dalam bekerja dan menyajikan hasil kerja kelompok
3. Menganalisis data siklus I, dari hasil observasi yang dilakukan
d. Refleksi
Refleksi merupakan langkah untuk menganalisis semua hasil kegiatan yang sudah dilaksanakan pada siklus 1. Analisis dilakukan untuk mengukur tentang kelebihan dan kekurangan hasil kerja pelaksanaan kegiatan pembinaan profesional denggan pendekatan kooperatif pada siklus I kemudian mendiskusikan hasil dari analisis untuk merencanakan perbaikan dan penyempurnaan dalam kegiatan pembinaan profesional guru pada siklus II
1. Siklus II
a. Perencanaan
1. Mengindentifikasi dan merumuskan permasalahan
2. Merancang kegiatan pembinaan profesional dengan pendekatan kooperatif dengan membentuk kelompok yang beranggotakan 4 orang, kriteria pembentukan kelompok berdasarkan pangkat golongan ruang.
3. Menyiapkan paparan tentang silabus dan rencana pelaksanaan
Pembelajaran.
4. Menentukan teman sejawat untuk membantu dalam melaksanakan
pengamatan.
5. Menyusun tes kemampuan dalam mengembangkan silabus dan
rencana pelaksanaan pembelajaran
6. Menyiapakan lembar observasi.
b. Pelaksanaan
1. Peneliti melakukan apersepsi pada materi yang terkait dengan pengembangan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran.
2. Peneliti menyampaikan tujuan yang akan dicapai dalam kegiatan pembinaan profesional dengan pendekatan kooperatif.
3. Mempresentasikan tentang silabus dan rencana peelaksanaan pembelajaran.
4. Peserta bekerja dalam kelompok dalam mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran
5. Peserta berdiskusi untuk menyusun silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran dengan bimbingan dari peneliti secar kelompok.
6. Peserta menyajikan hasil kerja kelompok di depan kelas
7. Peneliti membagikan lembar evaluasi.
8. Pemberian penguatan kepada peserta kegiatan
9. Menutup kegiatan.
c. Observasi
1. Observasi oleh teman sejawat pada saat pemberian pembinaan
profesional kepada guru.
2. Peneliti mengamati jalanya proses pembelajaran dalam kelompok dan menilai guru dalam bekerja dan menyajikan hasil kerja kelompoknya
3. Menganalisis data siklus II, dari hasil observasi yang dilakukan
d. Refleksi
Refleksi merupakan langkah untuk menganalisis semua hasil kegiatan yang sudah dilaksanakan pada silkus 2, untuk mendapatkan simpulan apakah hipotesis tindakan dapat tercapai atau tidak. Sehingga diharapkan pada siklus 2 ini kemampuan guru dalam mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) kelas VI dapat meningkat.
E. Indikator Keberhasilan
Untuk menentukan berhasil dan tidaknya dalam penelitian tindakan sekolah. Peneliti merumuskan indikator keberhasilan sebagai berikut :
a. Meningkatnya aktivitas peserta pembinaan yang ditandai dengan kehadiran peserta, keberanian peserta dalam mengemukakan pendapat, dan kerja sama dalam kelompok .
b. Efektifitas penerapan pendekatan kooperatif dalam pembinaan profesional kepada guru ditandai dengan aktifnya semua kelompok
c. Adanya peningkatan nilai rata-rata tes akhir yang dicapai oleh peserta dalam penguasaan tentang silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran, ditandai dengan nilai ketuntasan lebih dari 70.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Hasil Penelitian Siklus 1
a. Perencanaan
Untuk melaksanakan siklus 1 didahului dengan menyusun materi tentang silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), Selanjutnya materi pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) meliputi pengertian rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), komponen RPP, prinsip-prinsip penyusunan RPP, dan langkah-langkah penyusunan RPP, kemudian membentuk kelompok menjadi 3 dengan anggota setiap kelompok 4 orang.
b. Tindakan
Hasil dari pre test terhadap peserta pembinaan sebesar 59,3. Pada akhir kegiatan tindakan, peneliti mengadakan post test terhadap peserta. Adapun hasilnya dapat diperoleh sebesar 65,31
c. Pengamatan
1. Hasil pengamatan penelitian dari teman sejawat kepada pembina pada siklus 1 ditemukan hal-hal sebagai berikut : (a) pembentukan kelompok tidak terencana dengan baik karena hanya berdasarkan pangkat dan golongan ruang. (b) peneliti kurang dalam menjelaskan cara-cara bekerja dalam kelompok. (c) peneliti dalam memberikan dampingan selama melakukan pembinaan kurang merata. (d) peneliti kurang memberikan motivasi pada peserta untuk dapat aktif dalam kegiatan pembinaan. Prosentase hasil pengamatan setelah direkapitulasi didapat hasil perolehan dalam prosentase : 60%. Prosentase tersebut di atas diperoleh dari perbandingan antara harapan dengan rekapitulasi hasil pengamatan.
2. Hasil pengamatan terhadap perserta ada beberapa hal yang ditemukan diantaranya : (a) masih ada peserta yang tidak memperhatikan pada saat pembina memberikan informasi, (b) masih ada peserta yang tidak dapat bekerja sama dengan kelompoknya, (c) masih terdapat egoisme peserta dengan tidak mau membagi pengetahuan pada anggota kelompok yang lain, (d) masih banyak peserta yang belum memahami dalam mengembangkan silabus dan RPP.. Prosentase hasil pengamatan setelah direkapitulasi didapat hasil perolehan dalam prosentase : 72%. Prosentase tersebut di atas diperoleh dari perbandingan antara harapan dengan rekapitulasi hasil pengamatan.
3. Hasil pengamatan terhadap kelompok , diperoleh temuan sebagai berikut : (a) masih ditemukan peserta kurang berpartisipasi pada kegiatan kelompoknya. (b) tugas kelompok masih didominasi oleh satu peserta atau dua peserta saja, (c) komunikasi baru satu arah. (d) masih terdapat peserta yang tidak mau mengerjakan tugas dalam kelompok. Prosentase hasil pengamatan setelah direkapitulasi didapat hasil perolehan dalam prosentase : 66%. Prosentase tersebut di atas diperoleh dari perbandingan antara harapan dengan rekapitulasi hasil pengamatan.
d. Refleksi
Setelah dilakukan pengamatan pada siklus 1 maka diadakan refleksi. Hasil proses refleksi adalah sebagai berikut: (1) presensi dilakukan pada akhir pertemuan dan terkesan kelupaan. (2) persepsi kurang, tidak menyampaikan materi prasyarat sehingga peserta kurang siap mempelajari materi yang diajarkan. (3) pembentukan kelompok tidak terencana dengan baik, karena hanya didasarkan pangkat dan golongan ruang, . (4) peneliti kurang dalam menjelaskan cara-cara kerja kelompok,. (5) peneliti dalam memberikan bimbingan kurang merata, sehingga ada kelompok yang bingung tidak mendapat bagian. (6) masih banyak ditemukan peserta tidak berpartisipasi pada kegiatan kelompoknya, bahkan mengobrol dengan sesamanya. (7) masih banyak ditemukan tugas kelompok didominasi oleh satu atau dua peserta saja. (8) pada saat pelaksanaan post test peneliti tidak mencermati tempat duduk pesert. (9) masih banyak ditemukan kelompok yang salah dalam menyusun silabus dan RPP. (10) ketidakaktifan kerja sama kelompok juga terlihat dari hasil pos test .
2. Hasil Penelitian Siklus 2
a. Perencaaan
Untuk melaksanakan siklus 2 didahului dengan menyusun materi tentang silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Kemudian membentuk kelompok menjadi 4 dengan anggota setiap kelompok 4 orang sedangkan kriteria yang digunakan dalam pembentukan kelompok berdasarkan pangkat dan golongan ruang peserta pembinaan, dan menyusun lembar observasi, menyusun soal pre test, dan post test.
b. Tindakan
Hasil test kemampuan peserta terhadap penguasaan materi silabus dan RPP pada siklus 2 sebesar 78,75
c. Pengamatan
1.Hasil pengamatan penelitian dari teman sejawat kepada pembina pada siklus 2 ditemukan hal-hal sebagai berikut : (a) pembentukan kelompok terencana dengan baik berdasarkan pangkat, golongan ruang dan kesetaraan jender (b) peneliti menjelaskan dengan baik cara-cara bekerja dalam kelompok. (c) peneliti dalam memberikan dampingan selama melakukan pembinaan merata. (d) peneliti memberikan motivasi pada peserta untuk dapat aktif dalam kegiatan pembinaan. Prosentase hasil pengamatan setelah direkapitulasi didapat hasil perolehan dalam prosentase : 86%. Prosentase tersebut di atas diperoleh dari perbandingan antara harapan dengan rekapitulasi hasil pengamatan.
2. Hasil pengamatan terhadap perserta ada beberapa hal yang ditemukan diantaranya : (a) semua peserta sangat baik dalam memperhatikan materi pembinaan, (b) peserta sudah dapat bekerja sama dengan kelompoknya, (c) tidak ada egoisme peserta,, (d) peserta sudah memahami dan mengusai materi pengembangan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran. Prosentase hasil pengamatan setelah direkapitulasi didapat hasil perolehan dalam prosentase : 88%. Prosentase tersebut di atas diperoleh dari perbandingan antara harapan dengan rekapitulasi hasil pengamatan.
3.Hasil pengamatan terhadap kelompok , diperoleh temuan sebagai berikut : (a) peserta berpartisipasi aktif pada kegiatan kelompoknya. (b) semua peserta sudah mengerjakan tugas dalam kelompoknya, (c) komunikasi multi arah. (d) peserta aktif mengerjakan tugas dalam kelompok. Hal ini dapat dilihat dari skor perolehan dari hasil pengamatan pembina terhadap kelompok sebesar 40 sehingga dapat diperoleh kualifikasi sering (baik) maksudnya kelompok sering mengajukan pertanyaan dan sering menyampaikan saran dan pendapat. Prosentase hasil pengamatan setelah direkapitulasi didapat hasil perolehan dalam prosentase : 80%. Prosentase tersebut di atas diperoleh dari perbandingan antara harapan dengan rekapitulasi hasil pengamatan.
d. Refleksi
Setelah dilakukan pengamatan pada siklus 2 maka diadakan refleksi pada semua kegiatan yang telah dilakukan. Hasil proses refleksi adalah sebagai berikut (1) presensi dilakukan pada awal sebelum kegiatan dimulai. (2) apersepsi sudah baik dengan menyampaikan materi prasyarat sehingga peserta sudah siap mempelajari materi yang akan diberikan oleh pembina (3) pembentukan kelompok sudah terencana dengan baik, karena menggunakan kriteria pangkat dan golongan tanpa memandang jenis kelamin dan latar belakang pendidikan,(4)peneliti merencankan kegiatan pembinaan dengan baik dengan menggunakan media LCD sehingga mempermudah peserta untuk memahami informasi yang diberikan. (5) peneliti sangat jelas dalam menjelaskan cara-cara bekerja kelompok yaitu yang mampu membantu yang kurang mampu. (6) peneliti dalam memberikan bimbingan sudah merata, sehingga semua kelompok mendapatkan dampingan yang sama. (7) semua peserta pembinaan sudah berpartisipasi pada kegiatan kelompoknya dalam bentuk diskusi. (8) tugas kelompok tidak didominasi oleh satu atau dua anak saja sebab semua sudah aktif memberikan masukkan dalam berdiskusi kelompok. (9) pada saat pelaksanaan tes akhir peneliti mencermati tempat duduk peserta sehingga tidak ada peserta dalam satu kelompok duduk berdampingan. (10) peserta sudah baik dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh penelit, ini menunjukkan peneliti sudah memberi penekanan pada bagian yang penting dan harus dicermati peserta. (11) semua peserta aktif dalam kerja sama kelompok.
B. Pembahasan
Dengan melihat hasil penelitian di atas dan dipadukan dengan hasil tes pada masing-masing siklus maka dapat dijelaskan bahwa:
1. Siklus I
Dari hasil pengamatan teman sejawat yang menjadi pengamat, aktivitas pembina pada siklus I ini masih ada yang harus diperbaiki, yaitu pada pemberian bantuan kepada peserta masih belum merata sehingga terkesan kurang adil.. Kelemahan pembina pada siklus I ini juga nampak pada kurangnya memberi penghargaan terhadap upaya peserta secara individu maupun kelompok.
Aktivitas kelompok pada siklus I ini masih kurang, hal ini nampak dari hasil pengamatan masih terlihat partisipasi anggota kelompok kurang baik, tugas kelompok masih didominasi oeh satu atau dua siswa saja. Sedangkan dari hasil pengamatan aktivitas peserta pada siklus I ini juga masih banyak kelemahan, hal ini nampak dari masih adanya peserta yang pasif dan nampak bingung tidak tahu apa yang harus dilakukan, bahkan masih ada yang nampak canggung untuk mendekat temannya dan belum ada keberanian untuk bertanya dan mengungkapkan pendapatnya.
Dengan melihat hasil di atas, maka perlu dilakukan perbaikan-perbaikan antara lain pembina supaya lebih pandai memberi penghargaan pada usaha peserta baik secara individu maupun secara kelompok. Agar kegiatan pembinaan dapat berhasil, peserta diberi penjelasan lagi bagaimana cara bekerja dalam kelompok, peserta disadarkan lagi bahwa keberhasilan pada kegiatan pembinaan ini tidak dapat ditentukan oleh orang per orang melainkan oleh tim. Artinya penghargaan tidak diberikan kepada perorangan melainkan diberikan kepada tim dengan kinerja baik.
Kesimpulan pada siklus I ini kegiatan pembinaan belum berhasil karena banyak tolok ukur yang belum tercapai seperti masih ditemukan anggota kelompok yang tidak bekerja, masih ada peserta yang salah dalam mengerjakan tuga, peserta yang bertanya dan mengungkapkan pendapat baru sedikit, dan kerja sama antar peserta masih kurang.
Dengan demikian perlu dilakukan tindak lanjut untuk memperbaiki kegiatan pembinaan dengan melaksanakan siklus II.
2. Siklus II
Pada pelaksanaan siklus II, pembagian anggota kelompok diulang dengan berdasarkan kesepakatan bersama supaya peserta yang mampu tidak mengelompok. Peserta perempuan dibagi merata pada tiap kelompok . Ternyata dari perubahan kelompok ini, komposisi anggota kelopok lebih baik, dan juga kesadaran tiap peserta tentang arti bekerja sama semakin baik.
Hal ini nampak dari hasil pengamatan aktivitas kelompok maupun aktivitas peserta menunjukkan perbaikan. Semua indikator yang diamati semua berhasil baik, aktivitas pembina berjalan baik, aktivitas kelompok berjalan baik tidak lagi didominasi oleh satu atau dua peserta, tetapi seluruh anggota kelompok berperan sesuai kemampuan mereka masing-masing yang kemampuan diatas teman-teman peserta membantu yang kemampuannya kurang dan sebaliknya yang merasa kemampuannya kurang ada keinginan untuk terus berusaha. Hasil pengamatan terhadap pembina (pengawas) oleh teman sejawat ada peningkatan dari 60% menjadi 86% berarti ada peningkatan sebesar 26%, pengamatan terhadap peserta juga peningkatan dari perolehan 72% menjadi 88% sehingga ada peningkatan sebesar 16%, kemudian hasil pengamat terhadap kelompok dari 66% menjadi 80% meningkat sebesar 14%. menunjukkan semua peserta mampu menyusun silabus dan RPP. Selanjutnya hasil tes kemampuan penguasaan tentang silabus dan RPP ada peningkat nilai rata-rata yaitu dari nilai 65,31 pada siklus 1 menjadi 78,75 pada siklus 2 sehingga nilai rata-rata meningkat 13,44.
Simpulan pada siklus II, terjadi peningkatan kompetens guru dalam mengembangkan silabus serta RPP dengan pendekatan kooperatif. Hal ini disebabkan karena peserta semakin aktif dalam mengikuti proses pembinaan. Dengan menerapkan pendekatan kooperatif dalam pembinaan profesional guru, pada akhirnya guru menjadi lebih sadar akan pentingnya bekerja sama dalam memecahkan suatu masalah. Mereka menjadi mengerti bagaimana cara menyusun dan mengembangkan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran yang baik sesuai dengan karakteristik mata pelajaran dan kondisi sekolah, dan menyadari bahwa dengan bekerja sama akan dengan mudah setiap permasalahan dan persoalan dalam pembelajaran di kelas dapat dipecahkan dan dicarikan solusinya dengan tepat.
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Hasil analisis data yang diperoleh dari hasil pengamatan terhadap pemibina/peneliti, pengamatan peserta pembinaan dan kelompok telah menunjukkan bahwa kualifikasi pelaksanaan pembinaan profesional dengan pendekatan kooperatif terhadap guru kelas VI di daerah binaan (DABIN) V Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes dalam menyusun silabus dan RPP kategori baik. Peneliti dapat menyimpulkan sebagai berikut
1. Kemampuan guru/peserta dalam memahami tentang silabus dan perencanaan pelaksanaan pembelajaran pada semester I tahun pelajaran 2007/2008 meningkat yakni rata-rata dari 65,31 menjadi 78,75.
2. Aktifitas peserta dalam pembinaan profesional guru kelas VI daerah binaan (DABIN) V Cabang Dinas P dan K kecamatan Wanasari Brebes tahun pelajaran 2007/2008 meningkat dari 46% menjadi 88%, ditandai dengan.
a. Keberanian peserta mengajukan pertanyaan dan mengemukakan permasalahan yang ada di sekolah dalam diskusi dari siklus I, dan siklus II terus meningkat.
b. Kerja sama antar peserta pembinaan dari siklus I dan II semakin baik.
3. Aktifitas kelompok dalam pembinaan profesional guru kelas VI daerah binaan (DABIN) V Cabang Dinas P dan K Kecamatan Wanasari Brebes tahun pelajaran 2007/2008 meningkat dari 48% menjadi 90%, ditandai dengan:
a. Keberanian kelompok sering mengajukan pertanyaan dan penyampaian pendapat dan saran dalam diskusi.
b. Kerja sama antar peserta dalam kelompok meningkat.
B. Saran
1. Pembinaan profesional yang dilakukan oleh pengawas kepada guru sekolah dengan pendekatan kooperatif sebagai salah satu alternatif dalam meningkatkan kompetensi guru, sehingga dapat dipakai oleh teman-teman pengawas sekolah dasar dalam melakukan pembinaan di daerah binaannya.
2. Pengawas sekolah supaya selalu mengembangkan diri dan dapat menggunakan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik daerah binaannya dan menerapkan guru sebagai subjek dalam kegiatan pembinaan sehingga akan mengahasilkan guru yang profesional .
3. Pengawas sekolah harus memotifasi guru untuk menacapai yang terbaik dan mampu mengharagai setiap peserta yang positif.
Dan sebagai penutup, penulis berharap semoga hasil penelitian tindakan sekolah ini bermanfaat dan dapat menambah wawasan serta memotifasi pada semua pengawas untuk lebih kreatif dalam melaksanakan pembinaan sehingga menciptakan guru yang mampu melaksanakan pembelajaran yang aktif, kreaktif dan menyenangkan yang pada akhirnya dapat meningkatkan mutu pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pendidikan Nasional, 2008. Petunjuk TeknisPenelitian Tindakan Sekolah, Dirjen PMTK: Jakarta.
Departemen Pendidikan Nasional, 2007. Pedoman Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan di SD, BNSP: Jakarta.
Departemen Pendidikan Nasional, 2007. Model Silabus di Sekolah Dasar, BNSP: Jakarta.
Departemen Pendidikan Nasional, 2007. Model Rencana Pelaksanaan Pembelajaran di Sekolah Dasar, BNSP: Jakarta.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,1995. Pedoman Pembinaan Profesional Sekolah Dasar , Dikdasmen: Jakarta
Muslich, Mansur ((2007) ,Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontektual, Bumi Aksara: Jakarta.
Lundgren, Linda. 1994. Cooperative Learning in The Science Classroom. New York: Gleoncoe Maemillan Mc Graw Hill.
Salma, Dewi, 2008. Prinsip Disain Pembelajaran (Instructional Design rinciples). Universitas Negeri Jakarta: Jakarta.
Suparman, M. Atwi. 1997. Disain Instruksional. Jakarta: PAU PPAI Universitas Terbuka.
Reigeluth, Charles M. 1983. Instructional Design: Theories and Models. New York: Lawrence Erlbaum Associates, publ.

4 komentar:

  1. Apa tidak sebaiknya, urusan menyusun silabus, rpp hingga skenario pembelajaran di serahkan kepada para pakar pendidikan. Guru di lapangan tinggal melaksanankan skenario pembelajaran yg dibuat oleh pakar [ tentunya setelah melalui kajian yang mendalam dari para pakar pendidikan ] sebagai semacam standar operasional prosedur { SOP ], sehingga kbm di sekolah tidak menjadi semacam "uji coba" berbagai macam metode dan pendekatan yang dilakukan oleh setiap guru di setiap sekolah. Kasihan anak-anak didik

    BalasHapus
  2. ya Mas Nardi.. memeang selama ini banyak ekluhan di kalangan guru dalam pelaksanaan tugas utana yaitu merenanakan KBM, melaksanakan KBM dan mengevaluasi dan melaksanakan tindak lanjut hasil KBM. meskipun sudah dilakukan bebagai upaya melalui KKG, pelatihan, penataran. workshop dsb namun tetap saja guru dalam mengajar masih banyak menghaapi kendala. APa yang Anda kemukakan ada benarnya. Terbukti dalam konsep kurikulum baru tahun 2013 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan menerbitkan kurikulum beserta perangkatnya dampai dengan pedoman guru dan siswa secara lengkap. kita semua berharakurip perubahan kurikulum tidak lagi menjadi beban bagi guru...

    BalasHapus

Ayo donk... beri komentar, ya.. Makasih....